SOLO, MettaNEWS – Renungan malam di Pasar Gading Solo mengingatkan masyarakat akan tragedi kemanusiaan Palang Merah Indonesia (PMI) Solo pada 11 Agustus 1949 silam. Tak jauh dari acara ini digelar, Prasasti Kebhaktian Rakyat kembali memutar ingatan akan pembantaian berdarah yang sudah berlalu 73 tahun lamanya.
Sejarah mencatat peristiwa kelam ini merupakan puncak dari Serangan Umum 7-10 Agustus 1949. Saat itu tentara Belanda Green Cap KNIL (baret hijau) telah melakukan perbuatan keji menghabisi 21 nyawa pejuang PMI Solo dan manusia tak berdosa di kompleks markas PMI dalem dr. Padmanegara Gading, Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.
Kepala Markas PMI Solo, Budi Purwanto mengatakan pihaknya ingin generasi penerus bangsa mengingat kejadian kelam ini sebagai tonggak sejarah Kota Solo bebas dari jeratan jajahan Belanda lewat renungan malam. Banyaknya nyawa tak berdosa telah gugur dalam kejadian itu. Namanya telah tertulis dalam Prasasti Kebaktian Rakyat pada 22 Agustus 1987 dapat menjadi pengingat masyarakat.
Di malam itu, stakeholder dari berbagai lapisan duduk bersila merenungi kisah sejarah 11 Agustus. Dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, himne PMI dan gugur bunga acara perenungan berjalan khidmat.
“Sebagai insan Palang Merah Indonesia terutama pengurus relawan, staf dengan adanya kegiatan ini untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, kami sengaja mengundang beberapa stakeholder dari wilayah setempat seperti lurah camat, pengelola pasar supaya generasi penerus mengetahui memaknai dan memahami tentang nilai-nilai kejuangan kemanusiaan yang ditunjukkan dengan prasati,” kata Budi kepada MettaNEWS, Rabu (10/8/2022) malam.
Selain untuk mengingatkan kembali Serangan Umum yang berlangsung 4 hari, renungan malam ini juga bertujuan untuk menemukan saksi sejarah tragedi mengerikan ini.
“Serangan Umum 4 hari menjadi tonggak sejarah perjuangan yang luar biasa bagi Kota Solo khususnya dan Indonesia pada umumnya. Bagaimana mempererat keakraban antara relawan stakeholder dan pengamat sejarah terjalin dan juga masyarakat sekitar kita bisa melihat ada kegiatan apa kemudian akan muncul saksi-saksi sejarah yang lain,” katanya.
Untuk merangkum sejarah Serangan Umum ini, pihak PMI Solo sedang menyusun karya fisik berupa buku yang nantinya dapat menjadi bacaan sejarah yang dapat menambah wawasan nagi semua kalangan. Lebih lanjut Budi mengatakan acara renungan malam tragedi 11 Agustus sudah dilakukan sejak 1990-an.
“Kami sudah mengadakan acara seperti ini sekitar tahun 1990 an di dalem Padmanegara waktu itu rumahnya masih ada bangunannya tahun 1995, 50 tahun PMI sekaligus memperingati 50 tahun HUT Kemerdekaan RI, untuk mengenalkan ke para relawan kami napak tilas dulu di hotel Yuliana yang sekarang dipakai kantor CPM, dalem Padmanegara yang kedua, monpers, lingkungan dr Moewardi, kita selalu adakan kegiatan long march pmr mengenal markas PMI, tahun 2021 kami bersama SIBAT mengumpulkan warga siaga bencana berbasis masyarakat atau relawan kelurahan,” jelasnya.
Berbeda dengan tahun lalu, saat ini PMI Solo mendadakan acara sedikit lebih luas yakni dengan melibatkan stakeholderberbagai elemen.
‘Harapan tahun depan bisa mengajak Pemkot Solo, anggota DPRD dari unsur masyarakat dan tokoh, prasasti selalu merawat kami ingin nantinya ada pembatas agar prasasti ini memiliki nilai sejarah, mengenalkan masyarakat bukan hanya bangunan yang beridri tapi tonggak sejarah PMI Solo yang menjadi bagian sejarah Kota Solo, masyarakat ikut menjaga,” tutupnya.







