SOLO, MettaNEWS – Institut Seni Indonesia (ISI) Solo kembali menghadirkan pameran seni internasional, Solo International Visual Art (SIVA) #5 2025, yang dibuka oleh Rektor ISI Solo, Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn, pada Selasa, 18 November 2025 pukul 09.30 WIB di Balai Sungging Prabangkara, Kampus FSRD Mojosongo.
SIVA merupakan pameran yang diinisiasi Prodi Seni Murni ISI Solo dan telah rutin dilaksanakan setiap dua tahun sejak 2017. Pameran ini memiliki keunikan karena seluruh karya yang dipamerkan menggunakan bahan dasar kertas, mulai dari karya 2 dimensi, 3 dimensi, hingga instalasi.
Tema tahun ini, “The Machine Archive”, mengeksplorasi interaksi antara arsip fisik berbasis kertas dan kecerdasan buatan (AI). Arsip kertas dimaknai sebagai medium yang merekam gestur, makna, dan emosi seniman, sedangkan Machine atau mesin cerdas merepresentasikan teknologi yang mampu menciptakan pola, gambar, dan gagasan artistik.
Melalui tema ini, SIVA #5 mengajak publik untuk memahami bagaimana ekspresi manusia dapat berdialog, mengkritisi, dan menemukan kemungkinan baru di persimpangan tradisi dan teknologi.
Pameran tahun ini menghadirkan 39 seniman dari dalam dan luar negeri, terdiri dari 32 seniman Indonesia, 5 seniman Malaysia, 1 seniman Jerman, 1 seniman Afghanistan, dan 1 seniman Grenada.
Selain pembukaan resmi, acara juga akan menampilkan performance seni untuk menghibur tamu undangan, antara lain “Serpell 22” oleh seniman Jerman Susana Miranti Kroeber, penampilan musik oleh Yasudah S, tarian bertema “The Archive” dari mahasiswa Prodi Seni Tari ISI Solo
Rektor ISI Solo, Dr. Bondet Wrahatnala, menyatakan bahwa SIVA tidak hanya sebagai ruang pamer, tetapi juga menjadi wadah refleksi atas interaksi antara seni tradisional dan teknologi modern, sekaligus memperkuat posisi ISI Solo sebagai pusat kreativitas dan inovasi seni internasional.
Pameran SIVA #5 2025 diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, seniman, dan generasi muda untuk memahami peran arsip dan teknologi dalam perkembangan seni kontemporer.






