SOLO, MettaNEWS – Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kota Surakarta menggelar PTMSI Surakarta Cup 2026 di GOR Bolamas, Laweyan, Solo, Sabtu-Minggu (1-2/8/2026).
Turnamen tingkat Jawa Tengah dan DIY dengan total hadiah lebih dari Rp4 juta.
Kejuaraan yang digelar PTMSI Surakarta itu diikuti hampir 150 peserta pada nomor tunggal. Selain menjadi ajang kompetisi terbuka, turnamen ini dimanfaatkan sebagai try in atlet Kota Surakarta yang dipersiapkan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah.
Ketua Umum Pengkot PTMSI Surakarta, Antonius Sulistyo Wibowo (Toni) menjelaskan, selama masa persiapan Porprov, para atlet Surakarta rutin menjalani try out di berbagai daerah seperti Yogyakarta dan Semarang. Kini giliran Surakarta menjadi tuan rumah sehingga para atlet dapat mengukur hasil latihan melalui pertandingan kandang.
“Selama ini atlet kami hampir setiap pekan mengikuti try out di berbagai daerah. Kali ini mereka menjalani try in di kandang sendiri sehingga kami bisa melihat sejauh mana perkembangan kemampuan mereka,” tutur Toni.
Menurut Toni, atmosfer pertandingan di kandang sendiri menjadi keuntungan tersendiri bagi atlet Surakarta. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menunjukkan peningkatan performa setelah mengikuti berbagai turnamen selama beberapa bulan terakhir.
Tak hanya atlet reguler, kejuaraan ini juga mendapat apresiasi karena memberikan ruang bagi atlet National Paralympic Committee (NPC). Para atlet difabel bertanding bersama atlet non-difabel dengan menyesuaikan aturan sesuai klasifikasi masing-masing.
Peserta NPC berasal dari berbagai divisi, mulai divisi pemula hingga atlet internasional yang berada di Divisi 2.
Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas persaingan sekaligus menambah jam terbang menjelang agenda internasional.
“Untuk atlet NPC, kejuaraan ini sekaligus menjadi try out menuju event internasional, termasuk persiapan menuju Asian Para Games. Selain itu juga menjadi sarana evaluasi klasifikasi kemampuan setiap atlet,” kata Toni.

Melalui sistem divisi, panitia juga melakukan verifikasi kemampuan peserta. Atlet yang tampil menonjol dan berhasil meraih podium akan dipertimbangkan naik ke divisi yang lebih tinggi sehingga kompetisi tetap berjalan adil.
Selain menjadi ajang pembinaan atlet senior, Toni menyebut turnamen ini juga memberi kesempatan bagi atlet usia dini yang diproyeksikan tampil pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda). Meski jumlah peserta pelajar belum banyak, PTMSI berharap muncul bibit-bibit baru dari Solo.
Toni menilai pertandingan nomor tunggal menjadi sarana terbaik untuk mengukur kemampuan individu. Berbeda dengan nomor ganda yang masih dipengaruhi kualitas pasangan bermain, nomor tunggal dinilai mampu menggambarkan kemampuan teknis setiap atlet secara objektif.
“Kami berharap semua peserta bertanding sportif. Jangan takut naik divisi ketika prestasi meningkat. Kompetisi akan semakin menarik jika semua pemain berani bersaing secara sehat,” tambahnya.
PTMSI Surakarta juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang datang dari berbagai daerah. Menurut Toni, tanpa dukungan atlet, turnamen seperti ini tidak akan dapat berlangsung dengan baik. Ke depan, PTMSI Surakarta berkomitmen terus menghadirkan kompetisi rutin sebagai bagian dari pembinaan prestasi tenis meja di Solo Raya.









