Prepegan, Ini Barang yang Diserbu Pembeli di Pasar Gede

oleh
Pasar Gede
Suasana Pasar Gede di lebaran 2022, Minggu (1/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Salah satu hal yang unik dari Solo adalah adanya adaptasi budaya Prepegan. Prepagan sejatinya merupakan budaya yang berasal dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Budaya ini berisi kegiatan atau aktivitas keluar rumah untuk menuju pusat perbelanjaan salah satunya pasar. Yang mana kebanyakan masyarakat akan membeli sejumlah kebutuhan yang identik dengan lebaran seperti ketupat, bunga atau kembang dan lain sebagainya.

Sehingga, hal ini menyebabkan adanya aktivitas warga yang lebih banyak berlalu lalang untuk membeli sejumlah kebutuhan. Sejumlah lokasi sekitar maupun dalam pasat pun tak lepas dari aktivitas yang satu ini. Salah satunya di Pasar Gede, Solo.

Hingga kini, Minggu (1/5) salah satu pasar induk di Solo ini menunjukkan aktivitas pasar yang mulai naik sejak Sabtu (30/4) kemarin.

Prepegan alit (kecil) dan gede (besar)

Prepegan terbagi menjadi dua bentuk yakni Prepegan kecil dan Prepegan besar. Dimana Prepegan kecil akan berlangsung selama dua hari terhitung H-2 lebaran, sedangkan Prepegan besar berlangsung  satu hari sebelum lebaran H-1. Untuk puncak dari Prepegan ini akan terjadi pada H-1 lebaran.

Masyarakat pun akan membludak keluar di hari Prepegan besar, sehingga seringkali kemacetan akan terjadi di sepanjang jalan sekitar Pasar Gede. Terlebih karena lebaran sempat mati suri selama dua tabun lamanya. Maka sudah pasti Prepegan kali ini akan lebih besar euforianya.

Berbagai kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat saat prepegan kecil maupun besar. Baik untuk membeli pakaian, maupun membeli ketupat, kembang untuk ziarah ke makam sanak family atau pun apem. Tak sedikit para pedagang dadakan di momen prepegan kecil dan besar ini bermunculan termasuk di Pasar Gede.

Kembang untuk nyekar

Pasar Gede
Penjual kembang Pasar Gede Solo alami kenaikan penjualan, Minggu (1/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Kembang merupakan barang yang paling dicari saat Ramadan. Sehingga hal ini menjadi salah satu penjual yang dibutuhkan keberadaannya saat prepegan adalah penjual kembang. Mereka biasanya penjual musiman yang berjualan saat prepegan saja. Mencari peluang sudah puluhan tahun berjualan kembang. Kembang yang didapatkan seringkali produksi tanaman sendiri atau juga beli lagi di tempat lain.

Hal ini dirasakan oleh pedagang kembang Pasar Gede, Dumi (60). Dumi menyebut penjualan meningkat deastis saat menjelang lebaran.

“Kalau nggak lebaran, hari hari biasa itu Rp 70.000/kg, sekarang Rp 350.000/kg. Itu yang mawar, kalau yang kanthil merah sama putih biasanya satu biji hari-hari sebelumnya cuma  Rp 300, Rp 400, Rp 500. Kalau sekarang Rp 1000 ada Rp 1500 ada. Kalau yang mekar ini Rp 1000 kalau yang nggak mekar Rp 1500,” ucap Dumi saat ditemui di kiosnya, Minggu (1/5/2022).

Dumi menyebut kebanyakan pembeli membeli kembang dalam paketan yakni berisi dua bungkus bunga mawar, kanthil merah dan kanthil putih yang dibungkus dengan daun pisang.

Dumi yang tidak setiap hari berjualan, mengaku hanya berjualan di hari Kamis di luar waktu lebaran. Ia menyebut penjualan kembang paling banyak terjadi saat Ruwahan, Syawalan atau Nyadran.

“Pas lebaran ini meningkat penjualnnya. Pas nyadran Ruwahan itu juga banyak. Yang ramai pas Syawalan sama Ruwahan ini saja. Kalau pas hari biasanya pas Kamis itu cuma langganan ya 2 kg habis terjual. Kalau sekarang 3 kg. Dapetnya Rp 3 jutaan lebih. Kalau hari biasanya terjual 2 kg pun dapetnya cuma Rp 200 ribuan, hari-hari biasa kan murah,” terangnya.

Mengalami kenaiakan pendapatan karena penjualan yang meningkat. Dumi menyebut sejak Sabtu (30/4) kamarin, ia mampu menjual 3 kg dengan pendapatan yang jauh lebih tinggi dari biasanya.

Mahalnya kembang disebabkan karena adanya momennya lebaran, Sadranan dan Syawalan. Stok bunga yang melimoah dari petani yang ada, hal ini bukanlah masalah karena stok bunganya mahal.

“Tiap Sadranan pasti mahal. Setiap salat Idul Fitri kan nyekar ke bapak ibu yang sepuh-sepuh jadi mereka butuh bunga buat nyekar,” ucap Dumi.

Ketupat

Pasar Gede
Penjual ketupat Pasar Gede Solo alami kenaikan penjualan, Minggu (1/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

Satu makanan yang umumnya ada disetiap peryaaan lebaran, kupat. Menjadi primadona bagi sebagian orang, kupat ini merupakan makanan yang dibungkus dengan anyaman janur kuning berbentuk kubus berisi beras. Biasanya makanan yang satu ini selalu ada disetiap meja makan setelah salat Idul Fitri digelar.

Untuk menyambut para tamu yang silaturahmi dari rumah ke rumah, biasanya si tuan rumah akan mempersilakan mencicipi hidangan ketupat lengkap dengan opor ayam atau kreceknya.

Hal ini dimnafaatkan Wahini untuk berjualan ketupat di masa menjelang lebaran. Waktu dua hari mendekati lebaran adalah waktu yang paling banyak orang berbelanja untuk kebutuhan hari raya.

Wahini yang berjualan sejak Sabtu (30/4) lalu menyebut mengalami peningkatan penjualan hingga Minggu (1/5).

“Jualannya cuma dua hari. Ketupatnya yang dijual satu ombyok (ikat) isinya 10. Harga Rp 15.000/ikat,” ucap Wahini.

Untuk bahan janur ia memperoleh dari Pedan, Klaten seharga Rp 40.000/pikul (tanpa satuan ukuran).

“Tapi nanti juga bisa sepi meskipun pengunjungnya banyak karena ada yang dari pemudik juga ya. Tapi bisa saja sepi karena pada milih (kupat) yang sudah matang. Biasanya kupat itu kan buat makan opor, sambel goreng ya tergantung kesukaan,” jelasnya.

Setelah lebaran H+5, Solo menggelar tradisi Syawalan. Namun hal ini tidak dimanfaatkan Wahini untuk berjualan. Pasalnya ia hanya akan menikmati masa lebaran bersama keluarga.

Dalam sehari Wahini bisa menujual 50-80 ombyok. Sehingga dalam sehari kisaran Wahini (50) mendapatkan pendapatan sekitar Rp 750.000 hingga Rp 1.200.000.

Apem

Penjualan apem menjelang waktu lebaran sejak Jumat (29/4) lalu mengalami kenaikan. Namun menurut salah satu pedagang tenongan, Eni Suwanti (34) mengaku penjualannya justru menurun.

Hal ini karena kurang adanya minat dari pembeli untuk menggunakan apem sebagai sajian di bulan Ramadan. Namun kendati demikian, kenaikan akan terjadi setelah lebaran H+5. Hal ini lantaran adanya tradisi Jawa yakni Syawalan. Sehingga apem akan banyak digunakan untuk sajen.

“Peminatnya udah nggak banyak seperti dulu. Tapi mendekati lebaran ini ya cukup naik dalam sehari bisa laku 50 apem,” sebut Eni saat ditemui di Pasar Gede, Solo, Minggu (1/5/2022).

Eni yang merupakan penjual apem musiman yakni hanya di waktu Syawalan mengaku menjual apem sebanyak 100 biji setiap harinya. Penjualan yang tidak menentu tidak membuatnya mengurungkan niat untuk mencari peluang melalui memanfaatkan momen jelang lebaran.

“Saya jualannya nggak setiap hari. Jadi setiap mau lebaran kan biasanya adatnya gitu,” ucapnya.

Sudah berjualan sejak Sabtu (30/4) kemarin, Eni menjual apemnya dengan harga Rp 2.000/pics. Ketahanab dari apem hanya bertahan selama satu hari dengan cara disimpan dalam kondisi ruang yang baik dan tidak lembap.