SOLO, MettaNEWS – Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) menerima kunjungan Ketua The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS) Semarang, Darminto, Rabu (4/2/2026).
Kunjungan yang dilakukan di ruang pertemuan PMS itu juga menghadirkan organisasi-organisasi sosial seperti Perhakkas (Perhimpunan Persaudaraan Hakka Surakarta), Makin (Majelis Agama Khonghucu Indonesia), UNDIP, dan lainnya.
Ketua Umum PMS, Sumartono Hadinoto menyebut, kunjungan sekaligus silaturahmi ini bertujuan untuk membangun kerjasama antar organisasi-organisasi sosial di Solo serta PMS untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan ke Jepang bersama AOTS.
“PMS mengundang beberapa organisasi sosial yang lain, di mana kami akan berbincang-bincang dengan pak Darminto, beliau adalah teman kami dari Semarang yang dulunya mereferensikan kita bisa belajar di AOTS Jepang,” ujarnya.
AOTS merupakan sebuah lembaga milik pemerintah khusus di bidang pelatihan dan pendidikan. AOTS mengundang semua negara yang berkembang untuk bisa belajar apapun yang ada di AOTS.
Puluhan tahun silam, Sumartono bersama Ketua Umum PMS periode sebelumnya, Wimboh Wicaksono berangkat ke Jepang untuk belajar community management dan Manajemen mutu (quality management) bersama AOTS.
Pelatihan dan pendidikan inilah yang ingin kembali dihidupkan AOTS dengan kembali menggandeng PMS.
“Mereka (AOTS) memiliki semacam tempat belajar, jadi sudah seperti kampus, yang kami dulu berangkat ke Jepang dengan pak Wimboh tapi itu di Kansai, waktu di sana kita ambil total community managemen. Kita banyak belajar karena selain mendapatkan pelajaran secara langsung, belajar untuk masalah total quality management,” urainya.
Melalui kesempatan itu, pihaknya banyak bertemu dengan berbagai pengusaha di Jepang. Baik importir, investor maupun pemilik perusahaan-perusahaan besar terkemuka.
“Juga kita diajak bertemu beberapa pihak termasuk misalnya BEA Cukai di Jepang, importir pengusaha yang import barang-barang yang ada di Indonesia. Kita ketemu dengan pengusaha Jepang yang punya invest di Indonesia, selain itu kita juga diajak ke perusahaan besar termasuk Toyota City, kemudian di Towa Corporation, dan National Panasonic,” terangnya.
Pelatihan dan pendidikan bersama AOTS tersebut berlangsung selama 2 pekan. Banyak hal yang dipelajari termasuk kemajuan teknologi Jepang sebagai negara maju yang perkembangannya begitu pesat.
“Kita merasa kemajuan teknologi di sana luar biasa. Jadi kita waktu ikut itu, selama 2 minggu, banyak mendapatkan hal-hal positif dan termotivasi. Bagaimana negara bisa maju dan semua negaranya bisa semakin berkembang karena memang kita perlu banyak belajar ke semua negara yang lebih maju dan lebih berkembang dari Indonesia,” paparnya.
Ia berharap dari pertemuan dengan AOTS ini dapat mengajak organisasi-organisasi sosial di Solo untuk belajar dan berlatih hal-hal tersebut ke Jepang. PMS pun siap mewadahi itu.
“Kami berharap mengajak oraganisasi-organisasi yang di Solo ini ada banyak peserta utamanya pengusaha yang tidak harus muda. Karena waktu kita ketemu pengusaha Jepang di sana usianya sudah 80 tahun lebih, mereka semangat sekali dan punya pabrik di Indonesia. Harapan kami selain mereka belajar ilmunya juga bisa bekerjasama dengan perusahaan yang ada di sana maupun pemerintah bisa ekspor ke Jepang,” tukasnya.
Ketua AOTS Semarang, Darminto menambahkan, pertemuan ini untuk menjelaskan fungsi AOTS.
“arena sebelumnya pak Wimboh dan pak Martono sudah ke Jepang. Waktu itu tidak susah subsidi, ke Jepang bisa dibayari. Ilmunya masih, akan kita hubungkan,” ujarnya.
AOTS siap menjembatani pelatihan dan pendidikan organisasi-organisasi sosial di Solo untuk belajar humas resource, training dan konsultan ke Jepang.
“Sekarang zamannya digitalisasi di Jepang 10 hari. Harapannya akan ada kerjasama dalam bentuk latihan training untuk human resource, penting dalam bentuk lain, training dan konsultan,” tukasnya.








