Pindah ke Balai Kota Malah Diguyur Hujan, Pedagang Pasar Takjil Harap-harap Cemas

oleh
Pasar takjil
Pasar takjil di Balai Kota Solo diguyur hujan, Selasa (19/4/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Pasar Takjil Semarak Ramadan 2022 yang sempat digelar di Benteng Vasternburg Solo sejak 5 April lalu kini dipindah ke Balai Kota Solo. Dipindahkannya lokasi Pasar Takjil ini lantaran para pedagang mengeluhkan sepinya pengujung dari hari ke hari. Namun sejak dipindahkan pada Senin (18/4) kemarin, giliran cuaca tak mendukung menjadi kendala para pembeli untuk datang ke Pasar Takjil tersebut. Alhasil pasar ini kembali sepi.

Pemilihan lokasi di Balai Kota sebagai tempat baru bagi Pasar Takjil karena adanya lampion atau ornamen Ramadan yang terpasang di halaman depan Balai Kota dan Jembatan Pasar Gede yang banyak didatangi pengujung untuk sekadar berfoto. Maka dari itu, pasar ini dipindah ke halaman Balai Kota Solo dengan harapan Pasar Takjil UMKM akan lebih ramai sampai berakhirnya gelaran ini pada 28 April mendatang.

Baca Juga: Waspada, Cuaca di Jawa Tengah Tiga Hari ke Depan Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

Meskipun diguyur hujan saat sore hari di waktu selang satu jam dibukanya Pasar Takjil ini, para pedangan pun tetap optimis Pasar Takjil bisa ramai. Salah satu pedagang, Suwarni (51) menyebut kondisi cuaca yang tidak mendukung merupakan risiko baginya. Hal ini karena dari pihak Pemkot Solo pun sudah berupaya untuk membuat pasar ini ramai. Namun di luar dugaan, hujan justru turun sejak hari pertama dipindahkan.

“Jadi pindah di sini, tapi mungkin faktor hujan ya, kemarin juga hujan lebat hari ini juga hujan lebat. Semoga untuk hari-hari selanjutnya tidak hujan lagi, jadi mungkin lebih ramai lagi. Kami juga masih setia sampai jadwal yang telah ditentukan dari pihak balai kota, jadi meskipun hujan. Laku nggak laku kami tetap stand by, itu sudah risiko kami,” terang Suwarni saat ditemui di Pasar Takjil Balai Kota Solo, Selasa (18/4/2022).

Mulai sepi sejak pekan kedua, Suwarni menyebut pendapatan pada minggu pertama cukup banyak karena banyaknya pengunjung yang datang ke Benteng Vasternburg. Sementara karena baru dua hari dipindahkan ke Balai Kota dengan kondisi hujan terus menerus, Suwarni menuturkan pendapatan sementara lebih banyak saat di Benteng Vasternburg.

“Kalau pendapatannya agak mending di sana (Benteng Vasternburg). Tetapi kalau di sini baru dua hari hujan terus, jadi belum bisa (dibandingkan). Semoga saja besok dan selanjutnya lebih bagus di sini,” harapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Voni (24), salah satu pedagang UMKM yang menjual pecel. Voni menyebut karena kondisi pasar terus menerus sepi penjualnya pun banyak yang berkurang. Hal ini membuat geliat Pasar Takjil tak lagi nampak hidup. Selain itu, dengan adanya pos penjagaan mudik yang terpasang di depan area Benteng Vasternburg, pasar ini semakin tak terlihat karena berada di belakang.

“Penjualnya sudah banyak yang mreteli (berkurang) saat itu. Jadi tempatnya makin sepi orang jadi nggak tertarik buat datang. Terus, di depan benteng itu kan ada pos penjagaan mudik, jadi kita tambah ketutupan. Terus ini tinggal segini, diperkirakan cukup jadi pindah ke sini gitu,” tutur Voni.

Jumlah pedagang yang semula 200 berkurang menjadi 64. Disebutkan Voni, angka tersebut merupakan hasil pendataan terbaru dari penyelenggara. Menurut Voni, kurang adanya hiburan di gelaran Pasar Takjil yang berlangsung selama 24 hari tersebut kurang adanya daya tarik bagi pengunjung selain hanya mencari konsumsi.

“Ini persiapannya kurang mateng sih, ini kan event-nya panjang nggak ada hiburannya jadi bosen. Kalau di sana (Benteng Vastenburg) itu pasti jam 18.00 WIB lebih udah sepi. Kalau saya jualannya pecel mau nggak mau harus habis,” jelasnya.

Meskipun begitu, Voni merasakan adanya perbedaan yang cukup baik dengan dipindahkannya Pasar Takjil ke Balai Kota. Hal ini karena banyaknya meja pedagang yang kosong dapat dimanfaatkan pembeli untuk menyantap sajian secara langsung. Selain itu, meja yang disediakan saat di Balai Kota, disebutkan Voni lebih besar 2 kali lipat sehingga lebih nyaman untuk ia menjajakan dagangannya.

“Kalau di sini (Balai Kota) tempatnya kan sebenernya ramai. Ditambah ada meja kosong jadi bisa makan di tempat. Kalau di sana nggak bisa mejanya kecil,” ucapnya.

Voni berharap, dengan dipindahkannya Pasar Takjil ke Balai Kota bisa membuat penjualannya meningkat.

“Disini kan kebantu sama spot-spot foto mungkin bisa lebih ramai,” pungkasnya.