SOLO, MettaNEWS – Murid SMP N 1 Solo mengikuti lokakarya batik. Kearifan lokal yang mengangkat tema tentang kain batik.
Lokakarya ini masuk dalam program P5 atau Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila. SMP N 1 Solo memilih kegiatan lokakarya batik berlanjut dengan praktek dan pameran hasil karya siswa.
Sebagai pemberi materi pada lokakarya Memetri Lestarining Batik tersebut adalah Danarsih Santosa Doellah pemilik batik Danar Hadi, dari Keraton Kasunanan Surakarta hadir KGPH Dipokusumo dan Wakil Ketua Himpunan Ratna Busana Febri Hapsari Dipokusumo.
Kepala Sekolah SMP N 1 Surakarta, Salim Ahmad menjelaskan, program P5 ada 7 tema yang mendukung konsep kurikulum merdeka. Untuk kali ini sekolah mengambil tema kearifan lokal mengangkat tentang batik.
“Dengan narasumber yang luar biasa dari Ibu Danar, Gusti Dipo, Ibu Febri. Mereka langsung pelaku budayanya. Kami berharap dapat memberikan motivasi untuk anak-anak. Agar lebih cinta dengan batik. Itu tujuannya dan untuk P5 ini nanti ada semacam gelar karya. Setelah mendapatkan materi semacam ini anak-anak akan langsung praktek untuk kemudian akan mereka suguhkan pada gelar karya di tanggal 30 Mei nanti,” papar Salim usai kegiatan lokakarya.
Peserta lokakarya P5 kearifan lokal batik adalah seluruh siswa kelas 7.
“Ilmu yang mereka dapat dari lokakarya ini akan mereka praktekan. Untuk membuat karya-karya inovatif dari siswa sendiri. Pada gelar karya nanti akan hadir Wali Kota Solo Gibran Rakabuming untuk melihat pentas dan hasil karya anak-anak didik,” ungkapnya.
Pemateri sekaligus Wakil Ketua Himpunan Ratna Busana, Febri Hapsari Dipokusumo menyampaikan dari lokakarya ini siswa dapat mengenal batik dengan baik.
“Ibu Danarsih berbagi kisah 50 tahun lebih berjuang untuk terus nguri-uri batik. Beliau menyampaikan bahwa sejak kecil memang bergelut dengan batik. Jadi memang lahir dari keluarga pembatik. Harapannya ke depan anak-anak ini nanti kalau memang punya passion itu bisa menjadikan batik sebagai bisnis dan penghasilan,” tutur Febri.
Pada lokakarya teraebut pemateri menyampaikan mulai dari sejarah batik, motof.batik, filosofi dan perkembangan batik dari masa ke masa.
“Ini bisa menjadi penghidupan bahwa batikĀ menghidupi banyak orang karena dari satu lembarnya itu pengerjaannya oleh orang yang cukup banyak,” terangnya.
Febri mengatakan, KGPH Dipokusumo menceritakan tentang filosofi. Kemudian tradisi penggunaan batik itu lebih kepada sejarahnya pada era Pakubuwono ke-7.
“Ketika batik mulai boleh keluar dari tembok Keraton. Sehingga menjadi lebih modern, lebih kekinian sampai hari ini. Juga terjadi pergeseran motif kemudian penggunaan batik sudah sampai untuk banyak hal tidak hanya kain jarik saja,” jelasnya.
Pihaknya juga menyampaikan perbedaan batik cap dan tulis dan juga kain printing motif batik.
“Sekarang banyak tekstil motif batik. Jadi tadi anak-anak belajar membedakan antara batik printing, batik cap dan batik tulis. Karena membatik ini melalui proses yang cukup panjang dari mulai nyoret sampai mlorot hingga hasil.jadi memakan waktu berbulan-bulan. Itulah mengapa batik tulis itu mahal,” tandasnya.
Dari kegiatan ini pihaknya berharap anak-anak masa kini tidak melupakan roh, sejarah, esensi dari filosofi batik yang pakem.
“Karena UNESCO ketika menetapkan batik Indonesia sebagai warisan budaya tak benda itu menilai dari proses membatiknya yang cukup panjang,” pungkasnya.







