SEMARANG, MettaNEWS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan anggaran Rp65,5 miliar pada 2026 untuk memperbaiki dan membangun jaringan irigasi di 25 kabupaten. Program tersebut mencakup rehabilitasi 334 titik jaringan irigasi tersier serta pembangunan 75 titik irigasi perpipaan.
Upaya ini dilakukan untuk memperkuat ketersediaan air bagi lahan pertanian, mengantisipasi kekeringan, sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pangan di Jawa Tengah.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, pembangunan infrastruktur irigasi harus diprioritaskan pada jaringan yang memberikan manfaat langsung bagi petani, terutama di wilayah yang membutuhkan pasokan air untuk kegiatan pertanian.
“Skala prioritasnya adalah irigasi-irigasi yang langsung bersentuhan dengan pertanian di wilayah kita,” ujar Luthfi saat menghadiri Parade Alat dan Mesin Pertanian di Lapangan Tarubudoyo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (3/11/2026).
Luthfi juga meminta kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memastikan jaringan irigasi yang dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Rekan-rekan gapoktan nanti tolong lakukan koordinasi dengan para bupati dan wali kotanya. Wilayah mana yang sudah dimasuki, kemudian sesuai perintah saya, harus dirawat,” tegasnya.
Selain memperbaiki jaringan irigasi, pemerintah daerah juga melakukan pemetaan kebutuhan air pertanian sebagai langkah antisipasi menghadapi kekeringan. Pemetaan tersebut mencakup wilayah yang membutuhkan sumurisasi, pipanisasi, maupun lahan tadah hujan.
“Dampak kekeringan pun sudah kita mitigasi. Bupati dan wali kota lewat dinas pertaniannya sudah melakukan mitigasi, mana yang sumurisasi, mana yang pipanisasi, mana tanah tadah hujan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Opik Mahendra menjelaskan, program rehabilitasi dan pembangunan irigasi tersebut tersebar di 25 kabupaten.
Menurut dia, pekerjaan mencakup rehabilitasi 334 titik jaringan irigasi tersier dan pembangunan 75 titik irigasi perpipaan.
“Total anggaran yang dikeluarkan adalah Rp65,5 miliar. Apabila dikonversikan berdasarkan panjang pekerjaan, program tersebut setara dengan pembangunan dan rehabilitasi sekitar 50 kilometer jaringan irigasi,” jelas Opik.
Panjang jaringan yang dikerjakan di setiap lokasi berbeda-beda, menyesuaikan kebutuhan serta kondisi lahan pertanian setempat.
Saat ini, pekerjaan masih dalam proses pengadaan dan pelaksanaan konstruksi. Pemerintah provinsi menargetkan sejumlah titik rehabilitasi dapat diresmikan pada akhir 2026.
Melalui program tersebut, Pemprov Jateng berharap distribusi air ke lahan pertanian semakin baik sehingga petani memiliki dukungan infrastruktur yang memadai untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan.








