YOGYAKARTA, MettaNEWS – Moda kereta rel komuter rute Yogyakarta–Palur yang dioperasikan oleh KAI Commuter terus memperlihatkan lonjakan penggunaan di akhir pekan serta memainkan peran penting dalam pertumbuhan pariwisata dan transaksi nontunai (cashless) di wilayah Yogyakarta–Jawa Tengah.
Rata‑rata volume pengguna rute ini pada akhir pekan mencapai 34.686 orang per hari, sedangkan hari kerja hanya sekitar 24.141 orang. Artinya, ada peningkatan lebih dari 10 ribu pengguna pada akhir pekan dibanding hari biasa.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyebut bahwa data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY‑2025 mencatat lebih dari 16 juta wisatawan mancanegara maupun lokal yang mengunjungi Kota Yogyakarta pada 2024.
Sementara di Kota Surakarta tercatat lebih dari 4,4 juta wisatawan, terdiri dari hampir 4,49 juta wisatawan lokal dan 12 ribu lebih mancanegara. Karina mengatakan bahwa tingginya kunjungan pariwisata ini “linier” dengan meningkatnya penggunaan Commuter Line sebagai moda transportasi utama di aglomerasi Yogyakarta–Klaten–Solo.
“Wisatawan maupun masyarakat lokal memanfaatkan kereta ini untuk beraktivitas maupun sekadar menjelajah destinasi wisata seperti Malioboro (dekat Stasiun Yogyakarta/Lempuyangan) atau ke Surakarta (dekat Stasiun Solo Balapan/Purwosari) dan bahkan ke Stasiun Palur menuju Grojogan Sewu atau pendakian ke Gunung Lawu via Cetho,” ungkap Karina.
KAI Commuter juga mendorong penggunaan transaksi nontunai dalam layanan mereka: sepanjang 2025 hingga September, lebih dari 40 % pengguna (lebih dari 2,67 juta orang) memakai Kartu Multi Trip (KMT), 23 % (~1,53 juta) menggunakan kartu uang elektronik bank, dan 36,7 % (~2,4 juta) memakai kode QR.
Karina menambahkan bahwa akses mudah, konektivitas yang baik, tarif terjangkau serta waktu tempuh yang pasti menjadikan Commuter Line sebagai alternatif transportasi yang ramah lingkungan dan ekonomi bagi masyarakat serta pelaku UMKM di wilayah operasionalnya.
Ke depan, KAI Commuter menyatakan akan terus berkolaborasi dan berinovasi untuk menciptakan ekosistem nontunai yang lebih masif serta integrasi moda yang makin mudah. Dengan data dan tren ini, Commuter Line Yogyakarta–Palur tidak hanya menjadi sarana mobilitas, tetapi juga mesin penggerak ekonomi wisata dan transformasi digital masyarakat di kawasan aglomerasi Yogyakarta‑Klaten‑Solo.








