Pasar Triwindu Berkebaya, Upaya Pedagang dan Masyarakat Solo Menjaga Eksistensi Kebaya

oleh
Hari Kebaya Nasional
Parade ayu 17 peserta "Pasar Triwindu Berkebaya" di Hari Kebaya Nasional, Rabu (24/7/2024) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Ada yang unik dari peringatan Hari Kebaya Nasional 2024. Di mana sejumlah ibu-ibu pedagang pasar antik di Kota Solo mengikuti parade kebaya bertajuk “Pasar Triwindu Berkebaya”, Rabu (24/7).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Komunitas Sinta Boma bersama Kelurahan Keprabon diikuti oleh 17 peserta. Selain pedagang, penari dan Putra Putri Solo lintas generasi pun ikut menyemarakkan acara ini.

Mereka tampak berlenggak lenggok mengenakan berbagai jenis kebaya seperti kutu baru, bludru, encim, Bali, Sunda, Jawa dan modern.

Riasan peserta pun bermacam-macam. Mulai dari sanggul Jawa klasik hingga modern. Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan pedagang yang sudah berusia senja.

Tim Kerja Pasar Triwindu Berkebaya, Heru Mataya menjelaskan kegiatan ini merupakan upaya kreativitas menyatukan kegiatan dalam saujana Pasar Triwindu Solo.

“Kreasi yang masih berakar tradisi yang kuat, mereka berjalan-jalan melewati Pasar Triwindu satu fashion yang menyatu dengan kehidupan pasar tradisional maupun suasana Kampung Keprabon, ini memang natural,” ujar Heru.

Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap kebaya yang merupakan warisan budaya Nusantara dapat terus lestari.

“Kebaya merupakan budaya leluhur yang luar biasa. Nenek moyang dan ibu-ibu kita mengenakan itu di masa lalu dan masa sekarang,” kata Heru.

“Kita pengin melestarikan dan kita kembangkan dengan semangat kekinian. Tapi terus menjadi akar budaya warisan budaya yang kuat bagi masyarakat kita khususnya wanita Indonesia,” pungkasnya.

Ikut dalam parade Pasar Triwindu Berkebaya merupakan pengalaman pertama bagi salah satu pedagang Pasar Triwindu, Sumarni.

Perempuan berusia 61 tahun itu merasa senang dapat terlibat dalam peringatan Hari Kebaya Nasional. Ia pun mengenang masa-masa di mana kebaya menjadi pakaian keseharian para pedagang di Pasar Triwindu.

“Senang turut berpartisipasi di peringatan Hari Berkebaya Nasional. Bahagia kumpul sama teman-teman lain profesi. Saya kan sudah tua, zaman dulu masih pada pakai kebaya sekarang sudah enggak. Yang sepuh-sepuh sudah nggak ada, dulu (pedangang) semua pakai jarik tulis sama kebaya,” kenang Sumarni. 

Sebagai pakaian tradisional, ia berharap kebaya tidak ditinggalkan.

“Mudah-mudahan berkembang, sekarang juga sudah banyak toko-toko yang jual kebaya di pasar antik. Ini juga bisa mengangkat Pasar Triwindu mudah-mudahan makin banyak tamu ke sini makin maju. Juga kebaya makin disenangi orang suka kebaya untuk sehari-hari untuk melestarikan budaya,” pungkasnya.

Senada dengan Heru dan Sumarni, salah satu model Putra Putri Solo, Audrey Natania Wibowo juga menaruh harap agar pamor kebaya tidak pernah surut dan hilang di telan zaman.

“Harapannya ke depan nggak hanya hari berkebaya tapi di hari-hari biasa kita juga bisa mix and match. Kita bisa pakai kebaya di daily activty kita juga, biar kita bisa melestarikan budaya dengan enjoy,” tutur Audrey.