Pandangan Iklim 2023, BMKG : Waspada Terjangan Bencana Hidrometeorologi Basah dan Kering

oleh
Banjir lahar dingin
Banjir lahar dingin di lereng Merapi, 2017 | MettaNews/Ari Kristyono

JAKARTA, MettaNEWS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan Pandangan Iklim tahun 2023 (Climate Outlook 2023).

Dari pengamatan itu, gangguan iklim dari Samudra Pasifik yaitu ENSO diprakirakan akan berada pada fase Netral. Tidak terjadi La Nina yang merupakan pemicu anomali iklim basah maupun El Nino pemicu anomali iklim kering.

Demikian juga dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang merupakan gangguan iklim dari Samudra Hindia, diprediksi akan berada pada fase netral pada tahun 2023.

Berdasarkan hasil monitoring dan prediksi BMKG, kondisi suhu muka laut di wilayah Indonesia pada September hingga November 2022 dalam kondisi hangat. Kemudian diprediksi akan menurun menuju kondisi normal mulai Desember 2022 hingga Mei 2023.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mewanti-wanti semua pihak untuk bersiap menghadapi terjangan bencana hidrometeorologi akibat tingginya curah hujan tahunan 2023 yang diprakirakan melebihi rata-ratanya di sebagian wilayah Indonesia.

“Ini dapat memicu bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Semua perlu dalam kondisi siaga dan waspada,” ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Jakarta, Senin (17/10/2022).

Disampaikan pula oleh Dwikorita, Pemerintah Pusat maupun Daerah juga harus tetap terus meningkatkan optimalisasi fungsi infrastruktur sumber daya air pada wilayah urban atau yang rentan terhadap banjir.

Selain itu, perlu dipastikan keandalan operasional waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya. Hal ini untuk pengelolaan curah hujan tinggi saat musim hujan dan penggunaannya di saat musim kemarau.

Lebih lanjut, Dwikorita juga mewaspadai potensi bencana saat kemarau. Kemarau 2023 ini wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan kebakaran lahan dan hutan.

“Semua pihak juga perlu mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan di tahun 2023. Ini bisa lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2020, 2021 maupun 2022 yang kemaraunya bersifat basah,” terangnya.