Dalam program “Are Our Kids Tough Enough? Chinese School” yang ditayangkan di BBC2, kita disuguhkan sebuah eksperimen pendidikan yang menarik: sekolah di Hampshire, Inggris, menerapkan metode pengajaran China selama sebulan.
Eksperimen ini tidak hanya menyoroti perbedaan mencolok antara sistem pendidikan China dan UK, tetapi juga memberikan wawasan berharga bagi sistem pendidikan di Indonesia.
Di awal program, kita melihat bagaimana siswa di Bohunt School bereaksi terhadap metode pengajaran China yang didasarkan pada otoritas dan disiplin. Pengajaran yang lebih berfokus pada ceramah dan penulisan teori di papan tulis. Seperti yang dilakukan oleh Miss Yang dan Mr Zou, menimbulkan tantangan bagi siswa yang terbiasa dengan pendekatan yang lebih interaktif dan mendorong keterlibatan kritis, seperti yang lazim di UK.
Perbedaan ini mencerminkan perbedaan budaya yang lebih luas dan mempengaruhi bagaimana siswa di kedua negara tersebut belajar dan berinteraksi di dalam kelas.
Dari eksperimen ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting. Pertama, pentingnya menghargai perbedaan budaya dalam pendidikan. Pendekatan yang sangat disiplin dan otoritatif mungkin efektif di China, tetapi kurang begitu di UK, dan mungkin juga di Indonesia, di mana pendidikan cenderung menggabungkan disiplin dan keterlibatan siswa. Kedua, pentingnya adaptasi dan fleksibilitas dalam pendidikan. Guru harus mampu menyesuaikan metode pengajaran mereka untuk memenuhi kebutuhan dan latar belakang budaya siswa mereka.
Dalam konteks Indonesia, ada peluang untuk mengambil yang terbaik dari kedua dunia. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Jin Chen et al., sistem pendidikan di China dan UK memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Di Indonesia, pendekatan yang menggabungkan disiplin dan otoritas dari sistem China dengan keterlibatan kritis dan otonomi dari sistem UK bisa sangat bermanfaat. Ini akan menciptakan lingkungan belajar yang seimbang di mana siswa tidak hanya mematuhi aturan, tetapi juga diajak untuk berpikir secara kritis dan mandiri.
Selain itu, seperti yang diungkapkan oleh Muchun Wan dan Wenzhong Zhu, perbedaan dalam pendidikan pasca-sarjana antara China dan UK, seperti dalam pengaturan program dan pengiriman pengajaran, dapat memberikan wawasan tentang bagaimana Indonesia dapat mengembangkan sistem pendidikan tinggi yang lebih inovatif dan responsif terhadap kebutuhan global.
Kesimpulannya, “Are Our Kids Tough Enough? Chinese School” memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana pendidikan dapat dan harus beradaptasi dengan perbedaan budaya. Untuk Indonesia, ini berarti mengambil pelajaran dari kedua sistem untuk mengembangkan pendidikan yang tidak hanya menghormati tradisi, tetapi juga mendorong inovasi dan pemikiran kritis.
Artikel ini memberikan perspektif mendalam tentang bagaimana Indonesia dapat belajar dari perbandingan sistem pendidikan di China dan UK, sebagaimana tercermin dalam program “Are Our Kids Tough Enough? Chinese School.”
Pendekatan hibrida yang menggabungkan aspek terbaik dari kedua sistem dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam pendidikan di Indonesia.
Referensi:
1. Chen, J., Li, J., Wang, L., Xiong, Y., & Zhang, P. “Comparative Analysis of Differences in Educational Systems of the Modern UK and China.”
2. Wan, M., & Zhu, W. (2018). “A Comparative Study on Sino-UK Postgraduate Professional Degree Education and Implications” DOI: 10.30560/IER.V1N1P16.
Artikel ini ditulis oleh :
Taufiq Subhanul Qodr
(Mahasiswa Program Doktor
Program Studi Ilmu Pendidikan FKIP UNS)







