SOLO, Metta NEWS – Pada acara jumenengan Kanjeng Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegara X yang akan dilaksanakan hari Sabtu (12/03/2022) mendatang, terdapat serangkaian acara pada upacara adat salah satunya pementasan tarian Bedhaya Anglir Mendhung Mangkunegaran.
Tari Bedhaya Anglir Mendhung ini termasuk ke dalam tari gaya Mangkunegaran yang memiliki perpaduan antara tari gaya Yogyakarta dengan gaya Surakarta.
Keterangan tersebut mengutip dari Buku Reksa Pustaka Mangkunegaran, dengan judul Anglir Mendhung Monumen Perjuangan Mangkunegara I.
Berdasarkan buku tersebut, tari ini sudah ada sejak zaman Mangkunegara I yang mana sejak zaman Mangkunegara II hingga VII tarian ini tidak pernah dipentaskan kembali. Hingga pada tahun 1981, tarian ini kembali dipentaskan.
Menurut keterangan dalam buku Anglir Mendhung Monumen Perjuangan Mangkunegara I, Babad Mangkunegaran, Sastronaryatmo, tarian ini diciptakan oleh Mangkunegara I Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa. Saat pembuatan tari tersebut, Mangkunegara I dibantu oleh dua orang penata gendhing yaitu Kyai Gunasuta dan Kyai Kidungwulung.
Tarian Anglir Mendhung berasal dari kata anglir atau lir yang artinya seperti atau serupa. Sedangkan mendhung berarti awan. Sehingga Anglir Mendhung dapat diartikan sesuatu yang menyerupai awan. Pada dasarnya tari ini menggambarkan bagaimana suasana peperangan di Desa Ksatriyan, Ponorogo.
Tari Bedhaya Anglir Mendhung dianggap keramat dan dilestarikan hingga saat ini dan hanya dipentaskan dalam upacara tertentu. Tari ini dilakukan oleh tujuh orang penari wanita dengan keistimewaan pesinden dan penabuh gamelannya juga wanita.








