SOLO, MettaNEWS – Digitalisasi dunia mau tidak mau harus dihadapi semua masyarakat termasuk warga Indonesia.
Namun di sisi lain ada kesenjangan pada lapisan masyarakat dalam beradaptasi mengikuti perubahan digitalisasi.
Tim Ahli Dewan Pertimbangan Presiden, Henry Indraguna menanggapi fenomena digitalisasi yang saat ini tengah menjadi problem di masyarakat yakni berpindahnya saluran TV dari analog ke digital yang membutuhkan perangkat tambahan untuk beberapa televisi yakni menggunakan STB.
“Saya apresiasi penuh digitalisasi dunia televisi, namun di sisi lain ada masalah yang muncul bahwa tidak semua lapisan masyarakat mampu membeli STB untuk menikmati siaran televisi,” tutur Henry Indraguna, Sabtu (10/12/2022).
Henry menyebut keluhan masyarakat ini disampaikan saat ia blusukan bertemu langsung dengan warga menggali informasi untuk disampaikan pada pemerintah.
“Banyak yang mengeluhkan ini saat saya turun ke daerah-daerah, terutama di Jawa Tengah,” ujarnya.
Yang menjadi masalah dari aduan masyarakat tersebut muncul satu kesamaan yakni mahalnya harga STB dan langkanya barang tersebut.
“Belum lagi kata masyarakat, para penjual STB kian berani menaikkan harga barang tersebut. Hal ini jelas menyengsarakan rakyat. Bayangkan di daerah itu harga STB bisa mencapai Rp 500 ribu rupiah per satu setnya. Seharusnya STB ini gratis didapatkan masyarakat, berhubung digitalisasi televisi adalah program pemerintah,” tandas Henry.
Kondisi ini menurut dugaan Henry ada banyak “mafia” yang bermain menimbun STB sehingga terjadi kelangkaan di pasaran dan membuat harganya terus merangkak naik. Masyarakat di daerah itu tidak bisa menonton televisi karena tidak memiliki daya beli.
“Saya dorong pada pemerintah baik tingkat pusat hingga daerah untuk membuat program pengadaan STB gratis bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. STB yang diberikan juga harus yang berkualitas baik, karena akses komunikasi dan informasi adalah salah satu hak dasar masyarakat di negara demokrasi,” tegas Wantimpres Henry.







