Melesu, Pendapatan Penjual Masker Mobil Keliling di Solo Turun

oleh
Masker
Millah penjual masker mobil keliling pendapatannya berkurang, Selasa (24/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Pada beberapa waktu yang lalu, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) memberikan kebijakan pelonggran penggunaan masker di area terbuka. Mulai membaiknya situasi di masa pandemi Covid-19 di Indonesia, membuatnya menurunkan kebijakan ini. Pemerintah pun juga telah mengubah status pandemi menjadi endemi.

Meskipun kebijakan ini belum diterapkan di wilayah Solo, namun dengan adanya pelonggaran tersebut membuat penjualan masker menurun.

Hal ini dirasakan oleh salah seorang penjual masker mobil keliling, Millah. Millah yang sudah berjualan sejak satu tahun yang lalu atau tepatnya pada Juni 2021 ini merasakan perbedaan pendapatan.

“Jauh (pendapatannya) bagusan dulu. Kalau awal-awal bisa sampai 20-30 (box), kalau sekarang berkurang sekali, kadang 10 (box) kadang nggak ada,” ucap Milah saat ditemui MettaNEWS di Jebres, Solo, Selasa (24/5/2022).

Berkurangnya pendapatan ini pun juga terjadi karena banyaknya penjual masker jalanan yang banyak bermunculan sejak kasus Covid-19 masih tinggi. Untuk saat ini di mana sitausi sudah mulai membaik, penjualannya pun juga ikut turun.

Milah yang menjual berbagai jenis masker ini mengaku masker impor dengan harga murah mengalami penurunan peminat.

“Saya di sini aja, dari 7-10-an. Nggak bisa dipastikan (penghasilan dulu),” tambahnya.

Meski mengalami penurunan pendapatan, Milah pun menyebut adanya peralihan jenis masker yang dicari oleh pembeli. Yakni masker dengan kualitas terbaik dan mahal justru mengalami kenaikan jumlah permint.

“Ya berkurang (pendapatannya), cuma sekarang yang dipakai yang bagus-bagus yang mahal, yang impor-impor (murah) itu jarang,” ungkapnya.

Walau mengalami penurunan pendapatan, Milah tak may mengurangi stok maskernya.

“Ya tetep nyetok, karena ini sudah sebagai suatu kebiasaan, mesti ada yang pakai. Ra ketan (sekalipun) siji-loro (satu dua) pasti ada yang laku,” ucapnya.

Millah yang pada awalnya merupakan seorang ojek ini mengaku tertarik memulai bisnis dengan melihat peluang yang ada. Kebutuhan akan masker yang masih banyak pada waktu itu membuatnya beralih profesi selama pandemi.

Millah pun menyebut harga masker saat ini mengalami penurunan yang cukup drastis.

“Waktu awal-awal harganya tinggi sampai Rp 60-80 ribu, kalau sekarang paling Rp 20-30 sudah jauh sekali. Karena banyak juga stoknya,” tutur Millah.

Selain karena kebutuhan, banyaknya masyarakat yang memburu masker di tahun lalu ini disebutkan Millah karena adanya kewajiban dari peraturan pemerintah.

“Diwajibkan, ketakutan, mungkin itu, karena wajib jadi harus beli,” ucap Millah.

Namun Millah pun tak menganggap pusing dengan adanya pelonggaran tersebuy. Sudah menjadi mata pencahariannya selama satu tahun terakhir, Millah berencana untuk tetap berjualan masker. Namun dengan tetap memperhatikan segala perubahan yang ada.

“Dalam kenyataannya itu sudah jadi kebiasaan. Itu kan bagus, kalau dulu karena kewajiban belinya yang murah-murah, tipis-tipis. Kalau sekarang yang murah nggak laku, yang laku malah yang mahal-mahal. Kalau dulu mungkin karena keterpaksaan, ini sudah empat hari yang murah nggak laku. Kalau sekarang yang laku malah yang 20 ke atas,” tukasnya.