SOLO, MettaNEWS – Desember seolah komitmen kebangsaan dan sekaligus keagamaan selalu diuji, karena umat Kristiani sedang merayakan Natal 2022 dan seminggu setelahnya, euforia perayaan tahun baru 2023 dilaksanakan.
Hal tersebut diterima baik oleh masyarakat Kecamatan Serengan, Solo. Mereka dapat berbaur sekaligus merayakan kemeriahan Natal dengan membuat acara bersama. Bahkan, ketua acara yang menyelenggarakan merupakan umat muslim.
Dicetus oleh Forum Silaturahmi Tokoh Beragama (Forsitoga) Serengan, acara yang bertajuk perayaan Natal bersama ini dihadiri seluruh perwakilan agama yang ada di wilayah tersebut.
Ketua Fortigosa sekaligus ketua panitia acara Suyoto mengungkapkan, perayaan ini merupakan kegiatan tahunan yang pihaknya gelar untuk semua hari raya agama.
“Ini merupakan bentuk toleransi kita semua, mulai dari kita Fortigosa yang notabenenya sudah perkumpulan umat beragama ditambah Forum Komunikasi Kecamatan (Forkompincam), ASN dan tentunya warga Nasrani,” jelas Suyoto Rabu (28/12/2022) malam.
Sebanyak 250 undangan pihaknya sebar untuk menghadiri acara yang terpusat di GKJ Danukusuman. Undangan tersebut khusus untuk tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemerintah di Kota Solo.
“Dalam acara ini tidak ada acara khusu seperti ibadah atau sebagainya. Kita hanya ikut merayakan perayaan natal bagi saudara kita yang Nasrani,” kata Suyoto.
Berpakaian batik dengan peci hitam khas ustaz, Sutoyo berdiri di depan pintu masuk gereja dan menyambut semua tamu yang hadir dengan senyuman dan tawa riang.
Ini merupakan kebersamaan untuk membentuk toleransi yang kuat, Sutoyo yang merupakan Muslim, ia mengaku terkejut saat didaulat sebagai ketua acara perayaan Natal ini. Namun, dirinya tetap menjalankan amanat tersebut untuk membuktikan nyata toleransi di Serengan.
“Ini sangat luar biasa, saya seorang muslim dan dipercaya sebagai ketua pelaksana dan semua mendukung. Ini yang menurut saya luar biasa,” ungkapnya .
“Di Serengan ini sangat kompleks sekali, dengan acara ini kita harapkan semua melebur, dari tumbuh toleransi, kebersamaan dan kerukunan dapat berkembang tanpa pandang-pandang. Sehingga semua menjadi nyata,” tandasnya.
Forum Silaturahmi Tokoh Beragama Serengan

Forsitoga kecamatan Serengan begitu komplit mulai dari 6 agama resmi Indonesia yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Bahkan agama yang masih berkembang yaitu Kepercayaan juga masuk dalam Forsitoga Serengan.
Perkumpulan yang lahir tahun 2020 di Solo ini bergerak dalam mengedukasi masyarakat terkait kerukunan dan toleransi antar umat beragama.
Ketua Forsitoga Sutoyo mengungkapkan, usai resmi menjadi sebuah forum tahun 2020 lalu, pihaknya baru dapat eksis pada tahun 2021.
“Dalam dua tahun berjalan ini kami, sudah melakukan berbagai program kerja seperti sosialisasi, bakti sosial dan kunjungan-kunjungan tempat ibadah,” Jelasnya.
Selain itu, program perayaan hari besar seluruh agama yang ada di Indonesia menjadi hal wajib yang akan mereka gelar.
Mengacu pada kejadian lampau, dikatakan Sutoyo bahawa kecamatan Serengan masih dibuntuti sebutan intoleran. Meski begitu pihaknya akan membasmi prasangka buruk tersebut.
“Kami menggandeng semua tokoh agama untuk mensosialisasikan atau menanamkan rasa toleransi. Contoh saat khutbah jumat ustaz berceramah, disitulah materi toleransi dibawakan. Sehingga sebutan hal buruk dari wilayah kami dapat menghilang,” jelasnya.
Ia berkomitmen akan menciptakan kerukunan. Sejauh menyangkut hubungan yang harmonis dan damai antarumat beragama, dirinya pasti berdiri tegak untuk mewujudkannya.








