GROBOGAN, MettaNEWS – Tradisi haul KH Abdurrahman Munadi dan Habib Muhammad bin Syekh Bafaqih di Dusun Polaman, Desa Jatipecaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, terus bertahan dan menjadi magnet masyarakat selama lebih dari satu abad. Ribuan jamaah kembali memadati rangkaian Haflah Dzikir yang digelar di Aula Makam Almarhumain, Rabu (24/6/2026) malam.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, yang memberikan mauidhoh hasanah sekaligus mengapresiasi kuatnya tradisi keagamaan yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Yasin itu, keberlangsungan haul hingga saat ini menunjukkan eratnya hubungan masyarakat dengan para ulama serta warisan ilmu yang mereka tinggalkan.
“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa hadir dalam haul ini. Haul menjadi jalan untuk menyambungkan kita dengan para guru-guru kita, menyambungkan ilmu dan sanad yang diwariskan para ulama,” ujar Gus Yasin.
Ia menegaskan, haul tidak hanya menjadi momentum mengenang tokoh yang telah wafat, tetapi juga menjadi sarana memperkuat hubungan spiritual dan keilmuan antara generasi sekarang dengan para ulama pendahulu.
Dalam tradisi Islam, lanjutnya, sanad memiliki peran yang sangat penting karena ilmu tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan semata, melainkan juga sebagai mata rantai pembelajaran yang tersambung dari guru kepada murid hingga kepada Rasulullah SAW.
“Para ulama ketika belajar, yang dicari adalah sanad. Bagaimana ilmu itu tersambung hingga kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,” katanya.
Gus Yasin menilai, pelaksanaan haul KH Abdurrahman Munadi dan Habib Muhammad bin Syekh Bafaqih yang terus berlangsung setiap tahun menjadi bukti bahwa keteladanan dan nilai-nilai yang diajarkan para ulama tersebut masih hidup dan dijaga oleh masyarakat.
Ia mengajak seluruh jamaah untuk terus merawat tradisi keagamaan yang baik dengan menjaga hubungan dengan para ulama, kiai, dan ahli ilmu sebagai sumber pembelajaran agama maupun nilai kehidupan.
“Haul ini bukan hanya mengenang, tetapi juga menjaga ilmu, adab, dan keteladanan para guru kita agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” tuturnya.
Selain menekankan pentingnya menjaga sanad keilmuan, Gus Yasin juga mengingatkan pentingnya bersyukur atas kesempatan berkumpul dalam majelis dzikir. Menurutnya, kegiatan seperti haul tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga.
Ia menambahkan, meneruskan ajaran baik yang diwariskan oleh para guru dan orang tua juga merupakan bagian dari bentuk bakti kepada mereka.
“Ketika kita meneruskan kebaikan yang diajarkan orang tua dan guru kita, itu juga menjadi bagian dari bentuk bakti kepada mereka,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan keluarga sekaligus panitia haul, Habib Faisol Bafaqih, menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah yang hadir, termasuk Wakil Gubernur Jawa Tengah.
Ia berharap pelaksanaan haul membawa keberkahan bagi keluarga besar, masyarakat Polaman, dan seluruh jamaah yang mengikuti rangkaian kegiatan.
Dalam sambutannya, Habib Faisol juga mengisahkan hubungan erat antara KH Abdurrahman Munadi dan Habib Muhammad bin Syekh Bafaqih yang menjadi teladan dalam menjaga rasa hormat, persaudaraan, dan kecintaan antarsesama ulama.
“Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk diwariskan kepada generasi masa kini sebagai bekal dalam menjaga kerukunan, menghormati guru, serta melestarikan tradisi keilmuan Islam,” tuturnya.
KH Abdurrahman Munadi dikenal sebagai ulama yang berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan dan menjadi rujukan masyarakat di wilayah Polaman dan sekitarnya. Sementara Habib Muhammad bin Syekh Bafaqih, yang juga merupakan menantu KH Abdurrahman Munadi, dikenang sebagai sosok yang memiliki peran penting dalam dakwah dan pengembangan tradisi keilmuan keluarga Bafaqih.
Hingga kini, penghormatan masyarakat terhadap kedua ulama tersebut tetap terjaga melalui pelaksanaan haul tahunan yang selalu dipadati jamaah dari berbagai daerah.
Bagi masyarakat Polaman dan sekitarnya, haul bukan hanya menjadi agenda keagamaan rutin, tetapi juga wadah untuk memperkuat silaturahmi, menjaga nilai-nilai keislaman, serta merawat warisan ilmu dan keteladanan yang telah diwariskan para ulama dari generasi ke generasi.








