SOLO, MettaNEWS – Ontran-ontran internal di Keraton Surakarta terus berlanjut sejak mangkatnya SISKS Paku Buwono XII tahun 2004. Terakhir, polisi memeriksa kasus laporan pencurian di Panti Rukmi, disusul penganiayaan terhadap beberapa kerabat dan abdi dalem, Jumat (23/12/2022).
“Konfliknya sudah lama, tidak kunjung reda dan semakin terpolarisasi. Yang lebih buruk lagi, konflik ternyata menurun, dari putra-putri PB XII kini ke cucu. Ini sangat buruk, arah konflik pun menjadi semakin tidak jelas,” ujar sejarawan Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko.
Sebagai solusi dari kemelut panjang itu, Heri adanya sosok muda di Keraton, seperti KGPH Purbaya dan generasinya yang mewarisi darah Paku Buwono. Mereka sebaiknya berubah sikap, alih-alih meneruskan berkelahi seperti orangtuanya.
“Ada contoh yang baik. Pergantian kekuasaan di Pura Mangkunegaran berhasil menghindari konflik keluarga, dan lihatlah sekarang. Pura Mangkunegaran dibangun, tradisi kembali hidup, banyak aktivitas yang tentunya mendatangkan kemakmuran lahir batin bagi semua pihak bahkan juga dirasakan warga Solo di luar tembok Pura,” ujarnya.
Menurut Heri, Keraton Surakarta memiliki kekayaan nonbendawi yang tak perlu diperebutkan. Justru jika generasi muda bersatu, mereka bisa bersama-sama memelihara, mengelola, mengembangkan dan menikmati kekayaan yang tidak pernah akan habis.
“Silakan generasi muda Keraton bertemu, berbicara tentang bagaimana mengelola Keraton ke depan. Bersama dengan Wali Kota Solo yang juga masih muda dan visioner, saya yakin Keraton Surakarta bisa menemukan formula yang tepat untuk bangkit,” tandas Heri.







