Kirab Bhinneka Gandekan ke-10 Sarat Akulturasi Budaya,  Wali Kota Respati Naik Reog dan Resmikan Buku Satu Dekade

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS — Kirab Bhinneka Gandekan 2025 menjadi momen istimewa bagi warga Solo, terutama Kelurahan Gandekan, yang pada tahun ini menandai satu dekade perhelatan budaya tersebut.

Kirab yang digelar Minggu (1/6/2025) sore di Jl RE Martadinata ini tak hanya menampilkan keragaman budaya, tetapi juga diwarnai aksi mengejutkan Wali Kota Solo Respati Ardi yang naik ke atas Reog Ponorogo, menyemarakkan suasana di tengah ribuan penonton.

Kirab Budaya Gandekan tahun ini mengusung tema “Spirit of Our Values, Journey and Legacy” sebuah refleksi atas nilai-nilai luhur, perjalanan budaya, dan warisan yang telah dijaga oleh masyarakat selama 10 tahun terakhir.

Ketua Panitia Kirab, Yeftah, mengatakan bahwa kegiatan ini tak hanya bertujuan mempererat persatuan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi serta penggerak ekonomi warga setempat.

“Sejak Mei, kegiatan sudah berjalan dari RW 1 hingga RW 9 dengan menampilkan potensi masing-masing wilayah. Selain menjaga budaya, kirab ini juga ikut meningkatkan perekonomian lokal,” jelas Yeftah.

Wali Kota Solo Respati Ardi menyebut kirab ini sebagai cermin dari komitmen masyarakat dalam merawat budaya di tengah modernisasi. Ia memuji konsistensi warga Gandekan yang selama satu dekade berhasil menjaga semangat kebersamaan dan nilai-nilai luhur Pancasila melalui Kirab Budaya.

“Kirab ini bukan sekadar tradisi tahunan. Ia mencerminkan nilai, perjalanan, dan warisan. Tiga fondasi itu membentuk kekuatan budaya kita. Tanpa nilai, perjalanan akan kehilangan arah. Tanpa perjalanan, warisan tidak akan terbentuk,” tutur Respati dalam sambutannya.

Salah satu momen tak terlupakan terjadi di penghujung kirab ketika Respati Ardi secara spontan naik ke atas kepala Reog dalam pertunjukan dari kelompok seni Handoko Kurdho. Aksinya diikuti oleh Camat Jebres, Samsu Tri Wahyudin, dan sontak disambut riuh tepuk tangan serta sorakan warga yang memadati jalan.

“Saya hanya ingin ikut serta melestarikan. Meski Reog berasal dari Ponorogo, tapi banyak sekali pegiat Reog di Solo. Harapannya, kesenian ini bisa terus tampil di berbagai event Kota Solo,” ujar Respati usai aksinya.

Selain kirab dan pertunjukan seni, perayaan kali ini juga menandai peluncuran resmi buku “1 Dekade Kirab Budaya Gandekan”, yang mendokumentasikan perjalanan budaya warga selama sepuluh tahun terakhir.

Tak hanya itu, prasasti serta gapura pembatas antara Kelurahan Gandekan dan Sangkrah yang telah direvitalisasi juga diresmikan sebagai simbol kolaborasi dan keterhubungan antarwilayah.

Kirab Budaya Gandekan 2025 membuktikan bahwa tradisi bukan hanya untuk dikenang, tapi juga dirayakan, dikembangkan, dan dijadikan kekuatan utama membangun kebersamaan serta identitas masyarakat.