SOLO, MettaNEWS – Yayasan Yekti Angudi Piadeging Hukum Indonesia (YAPHI), Solo mencatat selama pandemi Covid-19 angka pelecehan seksual di Kota Solo meningkat lebih dari 20 persen.
Direktur Pelaksana YAPHI, Haryati Panca Putri memaparkan perbandingan data kasus pelecehan seksual dari tahun 2020 dan 2021 penanganan kasus UPT Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Kota Surakarta (PTPAS) naik.
Tercatat pada 2020 ada 6 kekerasan seksual penganiayaan dengan rincian 1 perempuan dan 5 anak. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bentuk fisik, psikis, seksual dan penelantaran ada 30 kasus dengan rincian 16 perempuan dan 14 anak. Tindak pencurian ada 3 kasus, kekerasan dalam berpacaran ada 1 kasus dan perundungan ada 10 kasus.
“Pada 2020 total kekerasan yang terjadi di Kota Solo ada 54 kasus dengan rincian 18 menimpa perempuan dan 36 menimpa anak-anak,” beber Haryati kepada MettaNEWS, Rabu (24/8/2022).
Perbandingan itu meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2021. Dari data tersebut tercatat kekerasan seksual mencapai 17 kasus dengan rincian korban 1 perempuan dan 16 anak. Penganiayaan ada 8 kasus dengan rincian 7 anak dan 1 perempuan.
KDRT meningkat menjadi 42 kasus dengan rincian 23 menimpa anak-anak dan 19 menimpa perempuan. Hak asuh anak ada 4 kasus, kekerasan dalam pacaran ada 4 kasus, dan perundungan ada 4 kasus.
“Pebandingannya sangat tinggi di 2021 ada 79 kasus yang terdata dengan rincian 16 dialami perempuan dan 53 dialami anak-anak,” bubuhnya.
Ia mengatakan tingginya kasus pelecehan dan kekerasan pada anak disinyalir adanya perilaku baru yang ditimbulkan akibat pandemi Covid-19 seperti pembelajaran jarak jauh (PJJ), penggunaan gawai tanpa pantauan orang tua atau guru, kemajuan teknologi hingga munculnya banyak aplikasi dating apps (aplikasi kencan) menjadi faktor utama dalam kenaikan kasus.
“Masa pandemi, penggunaan gawai dalam pembelajaran di rumah sangat luar biasa karena keterbukaan informasi anak-anak biasanya meniru apa yang ada di gawai itu,” tegasnya.
Pihaknya menekankan petingnya pendidikan seks education untuk menyadarkan sebab akibat hingga dampak buruk melakukan perilaku seks bebas.
“Pendidikan seksualitas, kesehatan reproduksi harus dibangun dengan proses pendidikan dan pengetahuan yang lebih baik dengan sekolah,” ujar Haryati.
Direktur pelaksana YAPHI ini juga menuturkan bahwa banyak korban pelecehan seksual tidak mau speak up. Ketakutan, rasa malu dan takut dikambing hitamkan menjadi alasannya. Melihat hal ini, pihaknya siap melakukan pendampingan korban.
“Jadi nanti bisa datang kami pasti akan layani di Jalan Nangka Nomor 5 Kerten, Solo, atau bisa hubungi nomor 0811 2953 623,” tutupnya.








