SOLO, MettaNEWS – Meskipun terus berbenah, Kota Solo dan sekitarnya masih belum memiliki tempat dolan yang representatif. Belum ada tempat wisata, nongkrong, jajan dan dolan yang dekat dengan jarak tempuh kurang dari 1 jam.
Menangkap peluang tersebut, pengusaha Puspo Wardoyo mempunyai inisiatif menyulap kawasan sungai yang kumuh menjadi area rekreasi, hiburan yang merakyat.
“Solo belum punya tempat yang bisa buat nongkrong, pada ke Jogja semua, Solo tidak dapat. kalau mau dolan ke Tawangmangu agak jauh. Solo belum ada tempat yang bisa ditempuh tidak sampai 1 jam,” ungkap Puspo Wardoyo ketika ditemui di Kali Pepe Land, Rabu (20/7/2022).
Termasuk nekat, untuk mewujudkan idealisme nya, Puspo rela merogoh kocek sampai miliaran rupiah “menyulap” tepi Sungai Pepe atau biasa disebut Kali Pepe dari yang semula kumuh tidak terawat, kemudian menjadi kawasan yang tertata dan nyaman untuk dikunjungi, menjadi tempat untuk kegiatan seni budaya dan ruang publik bagi warga. Bisa buat wisata, jalan-jalan, kegiatan seni dan sarana kumpul-kumpul warga.
“Kita mau memberi contoh teladan pada masyarakat bahwa sungai tidak selalu seram, imagenya sungai itu identik dengan sampah, mitosnya banyak hantunya, banyak ularnya ini kita ubah menjadi ruang rekreasi yang representatif,” ungkap Puspo.

Puspo menjelaskan, progres pembangunan Kali Pepe Land baru berjalan 30%. Dari bagian yang sudah ada saat ini yakni stand kuliner, area bermain anak-anak, panggung musik dan area selfie.
Kali Pepe Land, lanjut Puspo terinspirasi dari beberapa kota di luar negeri khususnya di Eropa, bahwa tepian sungai juga bisa dimanfaatkan untuk aktivitas ruang terbuka, mulai dari seni budaya, wisata, kuliner dan kegiatan kegiatan ekonomi lainnya. Tapi di Indonesia kebanyakan hanya dibiarkan kumuh begitu saja bahkan dipakai pemukiman.
“Ini cinta untuk Solo, juga mencintai lingkungan. Kalau ini sukses semua sungai-sungai di Indonesia akan mengikuti. Kita akan buat sekira 700an meter sungai jadi kawasan yang bermanfaat dan mendukung perekonomian warga,” paparnya.
Proses pembangunan Kali Pepe Land bukan tanpa kendala, Memiliki lahan yang cukup luas di tepi Sungai Kali Pepe, Gagak Sipat Boyolali, Puspo sudah lama mempunyai ide membuat kawasan wisata kuliner dan ruang publik. Namun gagasannya itu terkendala soal pemanfaatan bantaran sungai.
“Di kota-kota luar negeri khususnya di Eropa, sudah biasa kawasan bantaran sungai bahkan di atas sungainya sekalian bisa dimanfaatkan untuk kegiatan wisata, kegiatan seni budaya dan ekonomi warga. Yang penting bukan untuk pemukiman. Karena itulah kami ingin mengubah kawasan Kali Pepe yang kumuh agar bisa dibuat kawasan yang nyaman untuk wisata dan ekonomi warga,” kata Puspo.
Kawasan Kali Pepe Land itu, termasuk bantaran sungai yang ditata, mencapai hampir 4 hektare.
Agar antara lahan yang ada di sisi utara dan selatan bisa terhubung, Puspo membuat jembatan secara mandiri dengan konstruksi yang kokoh. Jembatan yang menghabiskan dana sekitar Rp 1.5 miliar ini menghubungkan wilayah Gagaksipat dengan Colomadu.
Jembatan ini selain digunakan untuk melayani pengunjung Kali Pepe Land, juga sengaja dibuat Puspo untuk memfasilitasi mobilitas warga antar dua daerah yang terpisah sungai. Jembatan dengan konstruksi besi itu bisa dipakai lalu lintas warga.
Di kawasan Kali Pepe Land juga terdapat peninggalan sejarah berupa jembatan lori, kereta yang digunakan mengangkut tebu dari kebun menuju pabrik gula di Colomadu. Jembatan itu diperkirakan dibangun pada abad 18, sekarang masih terputus dan akan dibuatkan replika untuk menyambungkan kembali.

Kali Pepe Land dibangun dengan konsep natural modern, dengan memanfaatkan alur Sungai Kali Pepe yang mengalir ke jantung Kota Solo. Taman yang dibangun memadukan pertimbangan estetika dengan penataan modern mengedepankan konsep hijau, asri dan artistik.
Lokasinya sangat strategis, mudah dijangkau tidak jauh dari Kota Solo, dan menjadi salah satu tempat rekreasi atau tongkrongan masyarakat sebagai tempat wisata baru.
Puspo melihat peluang di kawasan tepi sungai ini untuk mewujudkan komitmennya berkontribusi dalam memajukan daerah serta mensejahterakan masyarakat sekitar. Memanfaatkan bantaran sungai untuk wisata sudah menjadi konsep dan tren di kota-kota di luar negeri.
“Tidak harus membuat kegiatan yang wah. Tren-nya sekarang misalnya untuk kuliner. Ini bisa dibuat di sini,” kata Puspo.
Menurut Puspo, kawasan tepi sungai dapat dimanfaatkan secara maksimal dan dikembangkan potensinya terutama didalam bidang pariwisata. Termasuk wisata edukasi dalam bidang pertanian, peternakan dan usaha kerajinan.
“Kawasan tepi sungai ini posisinya strategis, sehingga menarik minat para pengunjung untuk mengunjungi kawasan tepi sungai ini untuk rekreasi. Selain tujuan obyek wisata, kawasan tepi sungai ini juga sebagai kawasan hiburan dengan berbagai macam aktivitas pendukungnya,” pungkas Puspo.









