Jenderal World Para Fencing Puji Gelaran Para Fencing World Cup 2025 di Solo, Nilai Tim Indonesia Miliki Bibit Potensial

oleh
Para Fencing World Cup 2025
Sekretaris NPCI, Rima Ferdianto (kiri) bersama Technical Delegate sekaligus Sekretaris Jenderal World Para Fencing, Udo Zielger (kanan) saat penutupan Para Fencing World Cup 2025 di Solo, Kamis (18/9) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Gelaran Para Fencing World Cup 2025 di Indonesia sukses digelar di Kota Solo, Jawa Tengah, Indonesia, 15-18 September 2025. Technical Delegate sekaligus Sekretaris Jenderal World Para Fencing, Udo Zielger bahkan memuji penyelangaraan kompetisi ini sangat memuaskan.

“Kejuaraannya sangat bagus dan bahkan ini akan menerapkan standar tertinggi dibanding kejuaraan-kejuaraan para fencing yang lainnya. Secara pelaksanaan ini sangat rapi, mungkin ada sedikit kekurangan tapi itu tidak masalah. Tidak ada atlet yang complain, semuanya positif. Hanya isu kecil soal suhu panas, tapi itu wajar di Indonesia,” jelasnya.

Zielger juga menyoroti potensi atlet Indonesia di cabang anggar.

“Indonesia memang masih baru, tapi saya sudah melihat ada beberapa bibit potensial. Saya yakin ke depan atlet anggar Indonesia bisa semakin maju di ajang world cup lainnya,” tambahnya.

Ketua NPC Indonesia (NPCI), Senny Marbun, menyebut penyelenggaraan Para Fencing World Cup di Solo menjadi sejarah penting. “Luar biasa Indonesia mendapat kesempatan tuan rumah, ini kelas dunia dengan 17 negara. Baru pertama kali terselenggara di Indonesia. Bulan depan juga ada bulutangkis. Itu menandakan satu hal, Indonesia luar biasa,” ungkapnya.

Senny menegaskan, kejuaraan ini menjadi momentum untuk pembinaan lebih serius. “Kita memang baru kenal fencing ini. Persiapan ASEAN Para Games kemarin kita kalah semuanya, karena anggaran dan lama TC juga kalah. Oleh karena itu kita harus berjuang lebih keras. Harapannya dengan Menpora yang baru, pasti lebih bagus karena lebih berpengalaman,” ujarnya.

Dengan berakhirnya ajang ini, Solo tidak hanya sukses sebagai tuan rumah tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk mengembangkan cabang olahraga para fencing di masa depan.

Sebanyak 66 atlet dan 47 ofisial dari 17 negara yakni Australia, Perancis, Georgia, Jerman, Amerika Serikat, Korea Selatan, Polandia, Hong Kong, Britania Raya, Spanyol, India, Irak, Jepang, Argentina, Latvia, Thailand, dan Indonesia bersaing memperebutkan medali di 15 nomor pertandingan. Thailand keluar sebagai juara umum setelah mengoleksi 4 emas, 3 perak, dan 4 perunggu.