SOLO, MettaNEWS – Sejumlah komoditas pangan seperti telur ayam ras, bawang putih, cabai rawit merah, cabai besar, kacang tanah, mete hinga emping melinjo naik jelang Ramadan 2023. Kenaikan harga ini terjadi di salah satu pasar induk Solo, Pasar Legi.
Pantauan MettaNEWS, Rabu (8/3/2023) harga telur ayam ras berkisar di angka Rp 25.000 hingga Rp 26.000 per kilogram. Dari yang semula Rp22.000. Bawang putih Rp 30.000/kg dari semula Rp 27.000.
Tukinah (43), salah seorang pedagang bawang mengatakan kenaikan bawang putih disebabkan tingginya curah hujan hingga hasil panen rusak.
“Harga komoditi yang naik itu bawang putih. Kalau bawang merah stabil yang kualitasnya bagus Rp 35.000. Kalau sedang Rp 32.000. Sekarang Rp 35.000 untuk bawang putih. Penyebab naiknya itu karena cuaca. Ini kan panenannya dari luar kalau di sini nggak bisa. Kalau hujan 1 minggu itu naik harganya,” ujar Tukinah.
Kenaikan harga jelang Ramadan ini membuat Tukinah berhati-hati dalam memenuhi ketersediaan bawang di kiosnya. Tukinah pun mengaku selama harga naik, penjualan bawang di tempatnya stabil dengan untung yang tidak seberapa.
“Yang penting hati-hati karena harganya nggak stabil. Stoknya nggak mesti kadang 5 sampai 7 kuintal dua hari sudah habis. Kalau sepi ya sehari habis 1 kuintal. Ya intinya harus tahu alur selama naik. Permintaannya ya itu-itu saja nggak ada yang lain. Untungnya juga biasa berhati-hati nyetok karena cuaca hujan,” terangnya.
Cabai Rawit Berangsur Naik Jelang Ramadan
Sementara itu, pedagang cabai Pasar Legi, Jumiati (58) mengaku kenaikan harga juga terjadi pada komoditas cabai rawit merah. Untuk satu kilogram cabai merah tembus hingga Rp 70.000/kg. Berangsur naik dari Rp 50.000, Rp 60.000, Rp 65.000 dan terakhir Rp 70.000.
“Harga rawit putih Rp 25.000, rawit merah Rp 70.000, cabai tampar merah besar Rp 34.000, yang tampar hijau Rp 32.000/kg. Kalau yang sebelumnya harganya Rp 20.000. Yang paling banyak naiknya rawit merah berkisar Rp 5000 sampai Rp 10.000,” ujar Jumiati.
Kenaikan harga cabai rawit merah ini terjadi sejak 1 pekan. Penyebab disinyalir dari jumlah stok yang terbatas sedangkan jumlah permintaan di pasaran tinggi.
“Kadang dagangan cuman sedikit, pembeli yang datang banyak. Jadinya naik-naik. Ini permintaannya nggak stabil kalau stabil itu harga di bawah Rp 50.000 kadang Rp 40.000. Itu kalau harga normal. Kalau yang banyak naiknya rawit minim Rp 5.000 Rp10.000. Kalau tampar paling naiknya paling tinggi Rp 25.000
Sama halnya dengan Tukinah, Jumiati juga berhati-hati dalam menentukan stok cabai. Hal ini lantaran harga yang masih tinggi sedangkan jumlah pembeli tidaklah banyak.
“Cabai rawit merah dari Temanggung kalau ambilnya itu kurang lebih 80 sampai 100 kuintal. Kalau selama naik ini hati-hati dalam stok pangan,” tukasnya









