SOLO, MettaNEWS – Proyek revitalisasi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Jebres Solo oleh Taman Safari Indonesia semakin mendekati jadwal perencanaan, yakni di 1 Juli mendatang. Namun hingga kini sejumlah pedagang mengaku belum mendapat sosialisasi terkait revitalisasi objek wisata tersebut.
Salah satu pedagang minuman di selter depan, Dina Kutianingsih mengaku bingung akan nasib dirinya dan sejumlah pedagang di Taman Jurug selama beberapa waktu kedepan. Dina yang justru mendapat informasi revitalisasi Taman Jurug dari YouTube menyayangkan belum adanya pemberitahuan secara resmi dari pihak pengelola.
“Kalau yang dari kantor resminya belum keluar sosialisasi sama pedagang belum semoga saja diundur. Ini masih ramai-ramainya. Setelah pandemi itu alhamdulillah kalau pas awal sosialisasi itu 12 tahun ke atas masih sepi tapi kalau yang umum alhamdulillah. Ini sudah membaik hitungannya sudah normal,” terang Dina saat ditemui MettaNEWS di selter depan Taman Jurug, Rabu (22/6/2022).
Akan menunggu sosialisasi dari petugas, Dina berharap revitalisasi dapat diundur. Lantaran banyaknya pengunjung di masa libur sekolah, Dina dan sejumlah pedagang mengaku mengalami peningkatan penjualan. Terlebih pandemi sempat menghantam selama dua tahun lamanya membuat aktivitas berdagang di Taman Jurug ini mati suri.
Diketahui Taman Jurug akan ditutup sementara selama proses revitalisasi berlangsung hingga akhir tahun. Sehingga para pedagang pun tentunya tak dapat berjualan dalam kurun waktu tersebut.
“Berharap bisa lebih ramai lagi dan masih diperbolehkan berdagang lagi, kalau nggak diperbolehkan ya susah sudah tahun-tahunan di sini paling nggak kita menggantungkan di sini untuk biaya-biaya lainnya mohon kebijaksanaannya aja moga kita masih diperbolehkan,” terangnya.
Pedagang kaki lima (PKL) di area Taman Jurug ini terbagi menjadi dua, yakni untuk pedagang area depan dipimpin pihak kantor pengelola taman dengan biaya retribusi yang dibayar sekali dalam setahun. Sedangkan untuk PKL yang menempati area dalam dibawah Paguyuban Bakul Taman Jurug (PBTJ).
”Kemarin pas lebaran satu selter Rp 200 ribu, hari biasa nggak ada pas event aja. Nggak ada uang sampah tanggung jawab masing-masing kebersihan,” tutupnya.
Sementara itu salah satu pedagang topi di selter dekat Kolam Keceh yang tak ingin namanya disebut mengatakan setuju jika Taman Jurug direvitalisasi demi kebaikan.
“Ya nggak papa namanya untuk perbaikan. Soal pindah atau gimana itu nanti sudah dipikir mungkin sama orang-orang besar, kita orang-orang kecil nurut saja,” terangnya.
Ia pun mengaku penjualan selama masa libur sekolah cukup lumayan jika dibandingkan hari-hari biasa.
“Ramainya itu Minggu sama liburan, setelah udah normal abis pandemi itu agak lumayan,” tambahnya.
Di tempat terpisah, MettaNEWS mencoba mengkonfirmasi informasi sosialisasi ke Ketua Paguyuban Bakul Taman Jurug (PBTJ). Taman Jurug, Sarjuni.
Ketika ditemui di selter area Taman Gesang, Sarjuni mengiyakan belum ada informasi sosialisasi antara pihak pengelola dengan pedagang yang tercatat berjumlah 183 orang.
“Belum ada pembicaraan, ya harapan masyarakat itu dengan adanya perbaikan tentunya supaya ekonomi rakyat kecil itu malah meningkat taraf kehidupannya. Bukannya malaj terpinggirkan lagi,” ucap Sarjuni saat ditemui di selternya, Rabu (22/6/2022).
Sarjuni menyebut mengalami kerugian saat para pedagang yang awal mulanya berada di sepanjang jalan setiap sudut Taman Jurug dipindah ke selter.
“Karena pengalaman yang kemarin dengan adanya penataan bukannya menguntungkan pedagang yang ada tapi justru merugikan. Kami selaku pengurus menginginkan adanya kesejahteraan, sedangkan kalau nggak bisa makan atau miskin itu tanggung jawab negara. Masyarakat ini masih mau berusaha biar pun pendapatan minim karena bakul menekuni di sini (jualan) sudah lama,” terangnya.
Sarjuni yang juga berjualan makanan mengaku sudah menempati lahan Taman Jurug sebagai lokasi jualan selama 40 tahun, yakni sejak 1982 silam.
“Dulu belum tertata (pedagang) pating blesar (sembarangan) pada cari stand (jualan) di mana-mana. Seiringing dengan waktu ada Kepala Dinas Pariwisata yang memegang sini kemudian ditata seperti ini,” ungkap Sarjuni.
Bahkan pedagang pada mulanya memenuhi lokasi di sekitar kandang satwa untuk melakukan aktivitas berdagang. Selain selter para pedagang saat ini menempati pinggiran alur jalan Taman Jurug yang dilewati pengunjung.
“Pedagang di sini itu bukannya untuk kaya hanya untuk mencukupi bisa makan hidup sehari-hari sudah bersyukur. Karena ramai dengan sepi banyak sepinya. Ibaratnya duit (uang) nek (kalau) nganggur nggo mangan (makan) 10 dina (hari). Nek (kalau) dinggo (dibuat) usaha bisa 20 hari, ya cuman itu,” ujar Sarjuni.
Ia pun mengungkapkan harapannya yang sejak dulu ingin mengalami peningkatan pendapatan, namun ia menyadari lokasi berjualan di tempat rekreasi mengandalkan pengujung yang datang di momen-momen tertentu.
“Namanya tempat rekreasi adanya orang cuma hari-hari tertentu misal Sabtu Minggu. Itu pun kalau tanggal tua kadang biar pun pengunjung banyak tapi daya beli masyarakat rendah, ya memang UMK [Upah Minimun Kerja] Solo itu rendah. Jadi kalau dibandingkan dengan tempat wisata daerah lain, sini lebih murah, bahkan murah saja nggak ada yang mampir,” tutupnya.







