SOLO, MettaNEWS – Partai Nasional Demokrat (Nasdem) menggandeng Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai calon wakil presiden. Untuk mendampingi calon presiden Anies Baswedan.
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming tidak mau berkomentar banyak soal duet politisi besar tersebut.
Dengan duet Anies dan Cak Imin, wartawan menanyakan peluang Gibran jadi cawapres Prabowo Subianto.
“Pie maksude? (Gimana maksudnya?) Aku ra ngikuti (saya tidak mengikuti beritanya),” singkatnya.
Gibran malah balik bertanya apakah sudah ada deklarasi pasangan capres cawapres tersebut.
“Masak? Udah declare? Bukannya kemarin hanya silaturahmi saja?,” ujarnya balik bertanya.
Gibran bahkan malah mengaku bingung dengan kabar tersebut.
“Pie tha? Bingung aku. Pak Anies dan Cak Imin disingkat jadi?,” tanyanya pada awak media.
Ia mengaku tidak tahu kejelasan kabar tersebut.
“Wes final tha? (Sudah final?),” tanyanya lagi.
Terkait peluangnya sebagai calon wakil presiden Prabowo Subianto, Gibran menyebut nama Airlangga Hartarto.
“Ngga juga. Ada pak Erick Thohir, pak Airlangga, pak Yusril. Kita tunggu saja. Golkar kok nama saya yang diusulkan.
Soal hasil yudicial review batas usia calon presiden, Gibran akan mengikuti apapun hasilnya.
“Hasil yudicial gimana aku nggak ngikuti juga. Aku orang awam jadi tidak tahu hal seperti itu,” jelasnya.
Demokrat sebut Anies gandeng Cak Imin pengkhianatan koalisi
Sebelumnya Partai Demokrat mengeluarkan siaran pers terkait pernyataan Nasdem yang menggandeng Muhaimin Iskandar sebagai calon wakil presiden.
Dalam siaran pers tersebut memuat kronologi bagaimana Anies Baswedan mengajak Ketua Umum Demokrat Agus Harimukti Yudhono menjemput takdir sebagai pasangan cawapres.
“Atas dasar persahabatan dan chemistry yang selama ini terbangun antara Anies dan Ketum AHY, maka pada 23 Januari 2023 di sebuah rumah di Jalan Lembang, Jakarta Pusat, Anies Baswedan mengajak Ketum AHY “menjemput takdir” sebagai pasangan CapresCawapres 2024-2029 dengan kesepakatan Anies membawa Partai Nasdem, Ketum AHY membawa Partai Demokrat dan keduanya bekerjasama untuk mengajak PKS. Peristiwa ini disaksikan oleh 4 orang dari Tim 8” demikian salah satu poin dari pernyataan Demokrat tersebut.
Pernyataan tersebut juga menulis terjadi dinamika yang tak terduga.
“Namun demikian,sesuatu yang tidak terduga dan sulit dipercaya terjadi. Di tengah proses finalisasi kerja Parpol koalisi bersama Capres Anies dan persiapan deklarasi, tiba-tiba terjadi perubahan fundamental dan mengejutkan. Pada Selasa malam, 29 Agustus 2023, di Nasdem Tower, secara sepihak Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh tiba-tiba menetapkan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai Cawapres Anies, tanpa sepengetahuan Partai Demokrat dan PKS. Malam itu juga, Capres Anies dipanggil oleh Surya Paloh untuk menerima keputusan itu. Sehari kemudian, 30 Agustus 2023, Capres Anies dalam urusan yang sangat penting ini, tidak menyampaikan secara langsung kepada pimpinan tertinggi PKS dan Partai Demokrat, melainkan terlebih dahulu mengutus Sudirman Said untuk menyampaikannya”.
Sekretaris Jenderal Partai Demokrat yang juga Anggota Tim 8 Teuku Riefky Harsya dalam siaran pers tersebut menyebut rentetan peristiwa yang terjadi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap semangat perubahan.
“Pengkhianatan terhadap Piagam Koalisi yang telah disepakati oleh ketiga Parpol. Juga pengkhianatan terhadap apa yang telah disampaikan sendiri oleh Capres Anies Baswedan, yang telah diberikan mandat untuk memimpin Koalisi Perubahan,” tandasnya.








