Gema Syekaten 2026, BI Solo Catat Transaksi UMKM Tembus Rp10,3 Miliar, Pemkot Siapkan Wisata Syariah

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Rangkaian Syekaten 2026  Bank  Indonesia Solo melalui kegiatan Gema Syiar Syekaten di Solo Square Mall, Minggu (30/8/2026), menjadi momentum penguatan ekonomi dan keuangan syariah sekaligus pengembangan UMKM halal di Solo Raya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, mengatakan Syekaten merupakan singkatan dari Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren. Menurutnya, pengembangan ekonomi syariah tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Ia mengapresiasi kolaborasi dengan Solo Square dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Ekonomi syariah itu tidak bisa kita jalankan sendiri, tapi kita harus berkolaborasi, kita harus bersama-sama membangun ekonomi syariah ke depannya,” kata Dwiyanto.

Menurutnya, ekonomi syariah kini memiliki peran semakin penting sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan, pasar produk halal dunia tidak hanya dikuasai negara-negara mayoritas muslim.

Negara seperti Brasil, China, Amerika Serikat, dan Australia, kata dia, telah menjadi pemasok produk halal, termasuk daging halal.

“Pertanyaannya adalah kita sebagai negara yang mayoritas muslim ke mana? Harusnya kita bisa punya peran yang cukup besar di situ,” ujarnya.

Dwiyanto menilai Solo Raya memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi syariah. Ekosistem tersebut didukung keberadaan pondok pesantren, perguruan tinggi, pemikir Islam, Baznas, Kementerian Agama, OJK, pemerintah daerah, hingga pelaku UMKM.

Sertifikasi Halal Jadi Kunci Perluasan Pasar UMKM

Dalam Gema Syiar Syekaten 2026, Bank Indonesia Solo juga menyoroti pentingnya sertifikasi halal bagi pelaku UMKM, terutama menjelang pemberlakuan kewajiban halal pada 18 Oktober 2026.

Dwiyanto mengatakan sertifikasi halal tidak seharusnya hanya dipandang sebagai pemenuhan regulasi. Sertifikasi tersebut juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas akses pasar, dan memperkuat daya saing produk UMKM.

“Lebih dari sekadar pemenuhan regulasi, sertifikasi halal juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas akses pasar serta memperkuat daya saing pelaku usaha,” katanya.

Ia membayangkan jika seluruh UMKM di Solo Raya memiliki sertifikasi halal, peluang ekspor ke pasar internasional, termasuk negara-negara Timur Tengah, akan semakin terbuka.

“Pasarnya tidak hanya terbatas pada Solo Raya, tetapi juga lebih jauh lagi kita bisa masuk ke negara-negara Timur Tengah dan sebagainya,” ujarnya.

Bank Indonesia Solo, lanjut Dwiyanto, turut mendukung penguatan ekosistem halal melalui tiga pilar, yakni ekosistem halal, literasi ekonomi syariah, dan pengembangan ekonomi umat.

Sejumlah program telah dilakukan, antara lain pendampingan dan pelatihan sertifikasi halal bagi 30 UMKM yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Mi Ayam dan Bakso (Admisu) Solo Raya, sertifikasi bagi lima juru sembelih halal, serta sertifikasi dua rumah penyembelihan unggas di Solo Raya.

Untuk meningkatkan literasi ekonomi syariah, BI Solo juga menggelar Solo Bersholawat bersama Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf yang dihadiri sekitar 5.500 jemaah serta program sekolah pelopor ekonomi syariah di Solo Raya.

Sementara dari sisi pengembangan ekonomi umat, BI mendorong wakaf produktif untuk membantu pesantren semakin mandiri dan berdaya melalui pengembangan unit usaha.

Transaksi Pameran Syekaten Capai Rp520 Juta

Rangkaian Syekaten 2026 juga diisi berbagai kegiatan edukasi, talk show, kompetisi, hingga pameran produk UMKM.

Sebanyak 54 UMKM binaan dan mitra Bank Indonesia mengikuti pameran. Mereka terdiri atas 12 UMKM fashion dan wastra, tiga UMKM kriya, lima UMKM pesantren, 30 UMKM makanan dan minuman, serta empat UMKM fresh market.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dari jumlah pengunjung yang mencapai sekitar 23.100 orang.

Sementara itu, total omzet transaksi selama tiga hari pameran mencapai Rp520 juta. Adapun omzet UMKM yang mengisi rangkaian kegiatan Syekaten tercatat mencapai Rp10,3 miliar.

Bank Indonesia Solo juga memfasilitasi business matching antara 31 UMKM syariah dengan lembaga pembiayaan syariah. Dari kegiatan tersebut, tercatat nilai kesepakatan pembiayaan mencapai Rp1,3 miliar.

Solo Siapkan Kawasan Wisata Syariah di Kauman

Wali Kota Surakarta Respati Ardi mengatakan penguatan ekonomi syariah juga perlu diikuti dengan pengembangan destinasi wisata halal di Kota Solo.

Salah satu yang disiapkan Pemkot Surakarta adalah kawasan Kauman sebagai destinasi prioritas wisata syariah atau wisata halal.

Menurut Respati, kawasan tersebut berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi syariah di Kota Solo. Terlebih, wisatawan mancanegara, termasuk dari Malaysia, dinilai memiliki ketertarikan terhadap destinasi dan layanan wisata halal.

“Kauman akan menjadi destinasi prioritas wisata syariah atau wisata halal yang ada di Kota Surakarta. Segera kita tetapkan sehingga akan menjadi penggerak ekonomi syariah yang ada di Kota Solo,” kata Respati.

Ia mengatakan Pemkot Surakarta juga tengah menyiapkan sejumlah program lain untuk memperkuat fundamental ekonomi kota, termasuk penyelesaian kawasan Taman Sriwedari dan konsep pemanfaatan lahan makam melalui makam susun.

Lahan makam lama yang sudah tidak lagi digunakan, menurut Respati, nantinya dapat ditata kembali dan sebagian lahannya berpotensi dimanfaatkan untuk urban farming.

Respati Ingin UMKM Naik Kelas dan Bidik Konsumen Premium

Respati juga mendorong pelaku UMKM Solo untuk tidak hanya bermain di pasar konvensional, tetapi mulai membidik konsumen dengan daya beli lebih tinggi.

Ia menilai produk yang sama dapat memiliki nilai jual jauh lebih tinggi apabila dikemas dan dipasarkan pada segmen yang tepat.

Respati mencontohkan makanan tradisional seperti gendar pecel. Dengan pengemasan yang lebih premium dan dijual melalui hotel maupun festival, produk tersebut berpotensi mengalami peningkatan harga jual secara signifikan.

“Di sini harganya Rp5.000, tapi dengan kemasan packaging yang baik, yang premium, bisa dijual harga Rp30.000. HPP-nya sama, tapi keuntungannya berlipat ganda,” ujarnya.

Menurut Respati, strategi tersebut penting agar UMKM Solo mampu menangkap pasar baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha.

Pemkot Surakarta juga menyiapkan kemudahan investasi melalui skema fast track. Perizinan, termasuk Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), diupayakan agar lebih mudah dan tidak menjadi hambatan bagi investor.

Selain UMKM, Respati ingin Solo memperluas sektor pariwisata agar wisatawan tinggal lebih lama. Tidak hanya mengandalkan wisata kuliner, Solo juga akan mengembangkan sektor wisata kesehatan dan berbagai layanan premium.

Ia menargetkan Solo semakin siap menjadi kota yang mampu menarik top spenders atau wisatawan dengan daya belanja tinggi.

“Solo nanti di 2030 kita tetapkan menjadi wellness city,” kata Respati.

Menurutnya, pengembangan tersebut diharapkan menghadirkan berbagai fasilitas seperti kebugaran, kesehatan premium, spa, serta layanan healthy lifestyle yang pada akhirnya memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Penguatan ekonomi syariah, sertifikasi halal, pengembangan UMKM, serta wisata halal menjadi bagian dari upaya Solo membangun ekosistem ekonomi yang semakin inklusif, berdaya saing, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.