SOLO, Metta NEWS – Anggota Komisi IV DPR RI Luluk Nur Hamidah mengkritisi persoalan langka dan mahalnya kedelai. Luluk menyebut peristiwa mahalnya harga kedelai ini menjadi peristiwa tahunan yang terus terulang.
Luluk mengungkapkan terjadi kesenjangan agriculture di Indonesia antara mewujudkan kemandirian pangan dengan pemenuhan pangan dalam negeri yang bertumpu pada import.
“Kita lupa tugas besar bangsa yaitu memandirikan pangan kita. Ini tentang perut rakyat kita, tentang generasi kedepan yang hubungannya melahirkan generasi yang unggul,” kata Luluk dalam kunjungan kerjanya di Solo, Jumat (4/3/2022).
Luluk menyesalkan besarnya impor kedelai yang dilakukan oleh Indonesia. Padahal, lanjut Luluk kedelai menjadi bahan baku tahu dan tempe.
“Masalah kedelai ini sudah lama terjadi salah urus. Kedelai ini dikeluarkan dari daftar strategis nasional sehingga tidak dilindungi. Posisinya jadi produk bebas, mau impor berapapun bebas. Kita melakukan importasi paling besar dari Amerika,” ungkap anggota dewan dari Fraksi PKB ini.
Karena kedelai sudah dikeluarkan dari produk strategis nasional maka tidak ada kewenangan Bulog untuk ikut campur
“Ketika diurus oleh Bulog, ada kewenangan untuk mengendalikan harga, bisa diatur intensif ke petani, ada jalur distribusi yang benar,” tandasnya.

Dengan kondisi yang sudah lama berjalan ini, Luluk mengatakan karena impor sangat besar berujung pada mudahnya negara Indonesia dipermainkan oleh fluktuasi harga dan perubahan mata uang.
“Yang jelas juga tergantung pada sistem politik dunia. Apa yang kita impor, kita butuhkan sepenuhnya yang mengontrol adalah pihak lain, dalam hal ini adalah importir,” kata Luluk.
Luluk mengatakan beberapa langkah yang harus ditempuh oleh pemerintah untuk mengatasi masalah kedelai ini adalah mengembalikan posisi kedelai masuk lagi menjadi komoditas strategis nasional sehingga ada perlindungan negara pada komoditas kedelai.
“Kedelai harus dijadikan kembali komoditas strategis nasional, jadi dilindungi, impor dibatasi, harga dilindungi, sediakan benih unggul bagi petani dan memberikan insentif pada petani,” tegas Luluk.
Luluk menekankan petani kedelai juga harus dilindungi dalam artian bantu petani untuk menanam kedelai dari berbagai pihak sehingga petani semangat menanam kedelai.
“Impor kedelai kita mencapai 80% sisanya dari lokal, harusnya dibalik. Petani kita bisa kok menyediakan kebutuhan kedelai di Tanah Air, tapi negara harus hadir, daripada uangnya dipakai untuk impor 3 triliun mending buat membentuk pasar dari hulu ke hilir petani kita sendiri yang tanam,” pungkas Luluk.








