SUKOHARJO, MettaNEWS – Meski sempat mendung hingga hujan turun, gerhana bulan total dapat disaksikan warga Sukoharjo dengan jelas sekira pukul 18.30 WIB. Pemandangan bulan bulat merah dapat disaksikan dengan mata telanjang.
Pemandangan yang tak jauh berbeda juga terlihat dari Stasiun Observasi Astronomi Pondok Pesantren Assalaam, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo. Para santri Assalam nampak secara bergantian menyaksikan fenomena alam langka ini lewat teleskop.
Kepala Pusat Astronomi Assalam, AR Sugeng Riyadi mengatakan gerhana bulan total ini jatuh bertepatan dengan malam Rabu Wage tanggal 14 Rabiulakhir 1444 Hijriah. Sebelumnya menyaksikan gerhana bulan, 2200 santri melakukan salat gerhana bersama sekira pukul 18.13 WIB.
“Proses gerhana dimulai dari gerakan selepas Ashar namun cuacanya tidak mendukung gerimis mendung memasuki magrib. Bahkan juga gerimisnya semakin menjadi-jadi dan cukup tebal namun selepas solat Magrib yang kemudian lanjut salat gerhana. Begitu kita mencoba naik ternyata awan semakin menyingkir,” terangnya.
Gerhana bulan sebagian terjadi pukul 19.21 WIB. Fenomena rona merah dari bulan juga masih bisa diamati dengan jelas oleh para santri maupun pengamat yang hadir. Juga dengan warna putihnya.
“Hampir separuh itu masih gerhana bulan warna merah dan yang bawahnya itu adalah bulan yang asli warna putih kelihatan sedikit. Seolah-olah seperti warna merah putih gerhana Indonesia,” kata dia.
Pengamatan gerhana bulan melibatkan puluhan santri yang termasuk Klub Astronomi Santri Assalaam maupun santri lainnya. Mereka begitu antusias menyaksikan gerhana bulan yang terjadi terakhir di tahun ini.
Pemandangan gerhana bulan ini berlangsung hingga pukul 19.49 WIB menuju gerhana bulan total. Setelah melewati jam tersebut pemandangan gerhana bulan akan nampak seperti bulan purnama biasanya.
“Kalau bulan purnama ya memang warnanya itu dia mendapat sinar matahari langsung lalu dipantulkan ke bumi tapi kalau gerhana bulan kan mendapatkan tiga bentuk ya sinarnya dari matahari ini ketutup oleh bumi. Sehingga dia menjadi umbra atau inti bayangan bumi lalu menjadi memerah,” papar Sugeng.
Setelahnya melewati fase umbra atau gerhana total setelahnya bulan akan nampak seperti gerhana biasa atau memasuki fase penumbra. Namun pemandangan perubahan per fase gerhana bulan hanya dapat disaksikan dengan teleskop.
“Kalau pakai teleskop bisa membedakan samarnya ketika difoto tapi kalau diamati dengan mata biasa itu tidak bisa membedakan apakah itu gerhana bulan penumbra letusan atau bulan purnama,” katanya.
“Kalau dengan teleskop kelihatan juga kawah-kawahnya juga warna bulan saat purnama jelas putih. Kemudian yang gerhana itu merah dan sangat jelas. Jika tanpa teleskop kita agak susah membedakan antara dia tuh warnanya gelap biasa atau gelap ke merah,” tukasnya.








