Gempa M5.6 Cianjur Tewaskan 56 Orang, 700 Orang Luka-luka dan 343 Rumah Rusak

oleh

CIANJUR, MettaNEWS – Gempa bumi di Kabupaten Cianjur Jawa Barat menewaskan 56 orang dengan 40 diantaranya anak-anak yang tertimpa bangunan ambruk. 

Bupati Cianjur, Herman Suherman memperkirakan jumlah korban tewas masih akan terus bertambah mengingat gempa mangnitudo 5,6 ini juga merusak infrastruktur di beberapa daerah. Saat ini banyak warga yang belum dievakuasi akibat akses jalan terputus.

“Tadi saja banyak korban luka dan meninggal yang dibawa menggunakan sepeda motor. Kemungkinan kalau sudah jalan bisa diakses, bisa terdata semuanya korban meninggal dan luka,” katanya Senin (21/11/2022) sore.

Adapun jumlah korban luka-luka akibat gempa ada 700 orang. Kebanyakan dari mereka mengalami patah tulang.

Sementara itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, BNPB terus melakuan upaya penanganan bencana gempa bumi di Cianjur.

Ia menegaskan, BNPB akan menempatkan satu unit helikopter untuk mempermudah penanganan darurat bencana, evakusi dan pendistribusian logistik ke lokasi-lokasi terisolir.

Berdasarkan pendataan yang disusun oleh Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BNPB, dampak yang diakibatkan gempa tersebut turut merusak beberap bangunan, seperti 343 unit rumah rusak berat, satu unit pondok pesantren rusak berat dan RSUD Cianjur alami rusak sedang.

Kemudian empat unit Gedung pemerintah rusak, tiga unit fasilitas pendidikan, satu unit sarana ibadah, satu unit toko dan satu unit cafe juga alami kerusakan, serta ada jalanan yang terputus.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, akan segera menuju ke lokasi terdampak untuk melakukan upaya percepatan penanganan gempa.

“Besok pagi saya akan ke lokasi, untuk melaksanakan pendampingan terhadap langkah-langkah penanganan gempa di Cianjur, selain itu untuk memastikan pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak,” kata dia.

Ia memastikan bahwa rumah yang alami kerusakan akibat gempa akan dibangun kembali oleh pemerintah.

Suharyanto menjelaskan, tidak ada yang dapat memprediksi kapan terjadinya bencana, yang terpenting bagaimana respon yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat terjadinya bencana.

“Gempa sudah terjadi, tidak ada satu kekuatan yang bisa menghindari kapan terajdinya bencana, yang pasti setelah terjadi bencana bagaimana upaya-upaya kita secara sinergi, soliditas dan sungguh-sungguh agar penanganan bencana dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,” terang Suharyanto.