‘Gempa’ di Mal, Wali Kota Respati Dievakuasi

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Situasi genting dan heboh terjadi di Solo Paragon Lifestyle Mall, Kamis (11/9/2025) siang karena terjadi ‘gempa bumi’ saat Wali Kota Solo Respati Ardi tengah berafa di mal tersebut.

Sontak tim keamanan mal langsung memgevakuasi orang nomor 1 di Solo tersebut keluar melalui pintu darurat menuju titik kumpul yang aman.

Aksi tersebut merupakan simulasi kebencanaan yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Pemkot Surakarta bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar gladi lapangan kesiapsiagaan bencana di Atrium Solo Paragon Lifestyle Mall.

Kegiatan ini melibatkan pemerintah, relawan, akademisi, hingga dunia usaha untuk meningkatkan kesadaran sekaligus keterampilan menghadapi situasi darurat.

Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyebut simulasi ini penting sebagai bentuk pembiasaan masyarakat ketika menghadapi kondisi darurat.

“Ya ini kegiatan resmi dari BPBD terkait penanggulangan ketika simulasi ketika ada masalah ketika ada bencana, jadi kita sudah tidak panik. Termasuk kesiapan alat-alat dan kearsipan relawannya juga diuji,” ujarnya.

Kepala BPBD Surakarta, Nico Agus Putranto, menegaskan tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan edukasi, khususnya di area publik seperti pusat perbelanjaan dan gedung bertingkat yang kerap dipadati pengunjung.

“Apabila bencana terjadi di mal atau pusat keramaian, kita sudah bisa memberikan edukasi kepada pengusaha, guru, maupun masyarakat bagaimana mengatasinya. Jadi ini membangun kolaborasi bersama antara pemerintah, dunia usaha, relawan, dan akademisi agar Kota Surakarta semakin tangguh bencana,” jelasnya.

Dalam gladi tersebut, disimulasikan tiga skenario bencana, yakni gempa bumi, kebakaran, serta cuaca ekstrem yang berpotensi menumbangkan pohon di sekitar kawasan mall.

Menurut Nico, mitigasi bencana di gedung bertingkat harus dimulai dari kesiapan jalur evakuasi dan kemampuan personel keamanan.

“Keamanan gedung perlu dibekali pemahaman proses evakuasi, sehingga ketika terjadi bencana, mereka bisa langsung bertindak cepat dan tepat,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa meskipun September belum memasuki puncak musim hujan, potensi bencana tetap ada karena fenomena kemarau basah.

“Masih ada hujan yang sulit diprediksi dan berpotensi memicu angin kencang. Justru kondisi seperti ini bisa menimbulkan risiko lebih besar,” jelasnya.

BPBD Surakarta, lanjut Nico, telah menyiapkan sejumlah peralatan di titik-titik rawan bencana, khususnya banjir. Dengan begitu, laporan dari masyarakat dapat segera ditindaklanjuti.

“Kami ingin memastikan mitigasi berjalan baik. Artinya, upaya pengurangan risiko bencana bisa terjaga di Kota Surakarta,” tandasnya.

Melalui gladi lapangan ini, Pemkot Solo berharap seluruh pihak semakin siap menghadapi situasi darurat dan menumbuhkan budaya tangguh bencana di masyarakat.