Festival Hujan Internasional ke-9, Semangat Menari Bersama Air

Festival hujan internasional, Mugi Dance
Salah satu penampil di Festival Hujan Internasional di Studio Mugi Dance | MettaNews/Ari Kristyono

SUKOHARJO, MettaNEWS – Hujan dari sore barusan reda di Studio Mugi Dance, Kartasura, Sukoharjo, Sabtu (21/1/2023) malam. Halaman yang gelap, basah, becek di sana-sini, bahkan jalur paving block pun serasa licin. Tapi, semangat International Rain Festival atau Festival Hujan Internasional terasa menyembur bak lepas dari sumbatan.

“Ini festival ke-9, sudah sekian lama kami terus melakukannya tanpa putus. Bahkan dua tahun terakhir, saat pandemi Covid-19, kami tetap menggelar festival meski harus secara online,” tutur Nuri Aryati, Direktur Festival Hujan Internasional di sela-sela gelaran.

Nuri mengaku, tahun ini pun belum bisa menggelar festival dengan kekuatan penuh. “Tahun ini, cukup beberapa jam saja ya, yang penting ada. Kalau dulu bisa 2-3 hari dengan jumlah penampil yang banyak,” kata istri koreografer Mugiyono Kasido itu.

Meski begitu, malam itu para penampil yang hadir cukup beragam. Sembilan grup dari enam provinsi dan Equador menampilkan karyanya baik tari maupun teater.

Gelaran awal kelompok Sekar Laras dari Majalengka membawakan Babangkongan Belentung. Kelompok pimpinan Darto ini bahkan melibatkan penonton dengan mengajak memainkan alat Babangkongan yang dibagikan. Sebuah gelas plastik dengan tali menjuntai dari dasar gelas, bisa menimbulkan suara seperti bangkong.

Kinanti Sekar yang pernah tampil di Rain Festival bersama ayahnya, Jemek Supardi juga hadir kembali. Tentu, kali ini tanpa Jemek  yang telah berpulang beberapa waktu lalu. Setitik Membawa Bahagia, mengungkapkan kenangan bersama ayahnya ketika hujan turun.

Penampil dari Aceh, Nini Gondrong tampil duet dengan karya Nyo yang berarti ini.

Kolaborasi Indonesia- Equador yaitu Mugiyono Kasido dan Christina Duque membawakan karya Daya Banyu artinya kekuatan air. Komposisi musik oleh Mumtaz Pajut Nurogo.

Banyu adalah air hujan yang merupakan pertemuan air langit dengan bumi. Dari pertemuan mereka maka tumbuhlan tanaman- tanaman yang merupakan pendukung kehidupan.

Tampilan kolaborasi ini menuai riuh tepuk penonton.

Festival Hujan Internasional, Panggung di Atas Kolam

Penampil lain dari Lentik Dance, Riau, Omah Citra Khayangan, iing Sayuti dari Indramayu, Sudiharto dari Yogyakartaa dan Teater Kita yang merupakan kolaborasi Kalimantan Selatan dan Yogyakarta dengan komposer Memet Chairul Slamet.

Panggung festival kali ini berbeda dengan sebelumnya. Panggung memanfaatkan platform di tengah kolam bulat dengan sepasang air mancur mengarah ke tengah panggung. Penari leluasa bergerak mengeksplore dan menari dengan air mancur.

Menurut Direktur artistik Festival, Mugiyono Kasido, panggung kolam sengaja untuk memberi suasana berbeda.

“Sekaligus terkait tema kali ini  Menari bersama air, sehingga air mancur dan hadirkan selain dari kemungkinan air hujan jika pas turun,” paparnya.