SOLO, MettaNEWS – Prosesi Midodareni menjadi salah satu rangkaian penting dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran pernikahan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura) dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian yang berlangsung pada Kamis (5/11/2026) malam. Tradisi tersebut sarat makna, mulai dari doa dan harapan akan kelancaran pernikahan hingga penguatan kesiapan calon pengantin menghadapi kehidupan baru.
Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, K.P.H. Tjuk Susilo, M.P.A., menjelaskan Midodareni dilaksanakan setelah prosesi Siraman dan menjelang hari pernikahan.
“Malam Midodareni ini, menurut sejarah dan tradisinya, dipercaya sebagai malam ketika para bidadari turun dari kayangan untuk menghampiri calon pengantin putri. Kehadiran mereka memberikan penguatan serta memperdalam kesiapan lahir dan batin calon pengantin,” jelasnya.
Menurut Kanjeng Tjuk, Midodareni juga menjadi bagian dari penyempurnaan kelengkapan perabot dan ageman temanten agar calon pengantin tampil lebih cantik dan anggun pada hari pernikahan.
Malam tersebut sekaligus menjadi waktu bagi calon pengantin putri untuk berdoa dan menyendiri, memusatkan pikiran, serta memantapkan kesiapan sebelum menjalani prosesi pernikahan keesokan harinya.

Dalam tradisi ini, calon mempelai putri menghabiskan malam di Pracimayasa, kawasan Keputren, dan tidak diperkenankan keluar hingga malam berlalu. Sementara calon mempelai pria bersama keluarga calon mempelai putri mengikuti rangkaian acara di Pendapa Ageng.
Rangkaian Midodareni diawali dengan kedatangan rombongan calon mempelai pria dari Ndalem Prangwedanan sekitar pukul 19.00 WIB. Rombongan tiba di Bangsal Tosan untuk mengikuti tata cara Pasrah Tinampi dan penyerahan seserahan yang diterima GKP Mangkoenagoro IX.
Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi Tumuruning Kembar Mayang. Kembar mayang beserta kelengkapannya dibawa dari Bangsal Tosan menuju Ndalem Ageng. Prosesi ini mengandung makna doa dan harapan agar Tuhan memberikan restu serta perlindungan kepada kedua mempelai.
Dalam rangkaian Dhaup Ageng Mangkunegaran, terdapat empat pasang kembar mayang yang ditempatkan di empat lokasi, yakni nDalem Ageng, Pelaminan, Kamar Pusaka, dan Prangwedanan.

Setelah prosesi tersebut, keluarga besan menerima sambutan selamat datang yang disampaikan K.P.H. Tjuk Susilo. Suasana kemudian semakin semarak dengan sajian Tari Srimpi Sura Asmara, karya maestro tari R.Ng. Rusini, yang dipentaskan selama kurang lebih 20 menit.
Rangkaian Midodareni berlanjut dengan tata cara pemberian Kancing Gelung kepada calon mempelai pria oleh GKP Mangkoenagoro IX. Setelah prosesi selesai, rombongan calon mempelai pria kembali menuju Ndalem Prangwedanan.
Melalui tradisi Midodareni, Dhaup Ageng Mangkunegaran tidak hanya memperlihatkan sakralnya persiapan calon pengantin menjelang pernikahan, tetapi juga menunjukkan kesinambungan adat istiadat, nilai spiritual, serta pelestarian seni dan budaya Jawa.
Malam menjelang pernikahan itu pun menjadi pengingat bahwa membangun rumah tangga tidak hanya membutuhkan kesiapan lahir, tetapi juga kemantapan batin, doa, dan harapan baik untuk perjalanan kehidupan bersama.









