BAMAG LKKI Surakarta Perkuat Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Warga di Era Digital

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Badan Musyawarah Antar Gereja Lembaga Keagamaan Kristen Indonesia (BAMAG LKKI) Kota Surakarta diharapkan memperluas kontribusi dalam pemberdayaan masyarakat. Sejumlah program yang dapat dikembangkan antara lain penguatan ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, hingga peningkatan keterampilan digital.

Hal tersebut mengemuka dalam pengukuhan pengurus BAMAG LKKI Kota Surakarta di Rumah Dinas Wali Kota Surakarta, Kamis (5/11/2026). Mengusung tema “Peran BAMAG LKKI dalam Era Digitalisasi”, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran organisasi keagamaan dalam menjawab perubahan teknologi dan kondisi ekonomi masyarakat.

Ketua Harian BAMAG LKKI Pusat, Pdt. Henki Narto Sabdo, mengatakan perkembangan teknologi digital tidak dapat dihindari. Namun, pemanfaatannya perlu tetap diimbangi dengan kegiatan ekonomi produktif yang membutuhkan keterlibatan manusia secara langsung.

Ia mencontohkan budidaya ikan lele yang tetap membutuhkan keterampilan dan sentuhan manusia, meskipun teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaannya. Bantuan bibit lele yang disiapkan bagi masyarakat menjadi salah satu upaya mengembangkan kegiatan ekonomi produktif sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

“Peran BAMAG di era digitalisasi ini sesungguhnya bukan anti digitalisasi, karena faktor globalisasi atau teknologi ini tidak bisa dihindarkan. Namun, dalam mengelola ikan lele ini tidak bisa didigitalkan sepenuhnya. Harus tetap ada sentuhan secara humanis dan tradisional,” ungkap Pdt. Henki.

Menurutnya, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas peluang ekonomi kerakyatan, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Organisasi kemasyarakatan di Surakarta diharapkan mampu menangkap peluang tersebut tanpa meninggalkan kegiatan produktif yang dapat dikembangkan di lingkungan masing-masing.

Senada, Dewan Penasihat BAMAG LKKI Surakarta, Efendi Siahaan, menyebut budidaya lele dan penanaman sayuran sebagai bentuk pemberdayaan yang dapat membantu kemandirian warga saat menghadapi kondisi ekonomi tidak menentu.

“Seperti yang tadi disampaikan, ada usaha lele, budidaya, kemudian perkebunan dengan menanam sayuran. Jadi, pada saat terjadi masalah, sebenarnya kita sudah terbantu dengan upaya yang kita lakukan sendiri. Kita punya lele, punya sayuran di taman, sehingga bisa menjadi salah satu sumber kebutuhan masyarakat,” jelas Efendi.

Ia menegaskan, program pemberdayaan tersebut terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang agama, bukan hanya warga gereja atau umat Kristiani. Dengan demikian, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat secara bersama-sama.

Sementara itu, Ketua BAMAG LKKI Pusat, Pdt. Dr. Roland M. Octavianus, menyoroti perubahan ekonomi yang akan dipengaruhi perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan drone dan berbagai inovasi digital.

Menurutnya, dalam lima tahun ke depan akan berkembang konsep low altitude economy, yakni aktivitas ekonomi yang bergerak pada ruang udara hingga ketinggian sekitar 1.000–1.500 meter. Perubahan tersebut dinilai akan memengaruhi kebutuhan keterampilan dan arah pendidikan.

“Dalam lima tahun ke depan akan muncul yang namanya low altitude economy, ekonomi yang bergerak dari bawah sampai maksimum 1.000 hingga 1.500 meter. Bentuk ekonomi dunia ke depan akan mengarah ke sana. Karena itu, bentuk pendidikan juga akan mengarah kepada hal tersebut,” kata Pdt. Roland.

Ia mendorong gereja dan organisasi keagamaan mengikuti perkembangan tersebut serta bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan pemerintah. Kolaborasi diperlukan agar generasi muda memiliki bekal keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan pada masa mendatang.

Dewan Penasihat BAMAG LKKI Pusat, Romo Alexios, juga menilai digitalisasi dan kecerdasan buatan akan mengubah dunia kerja. Sejumlah pekerjaan manual mulai beralih menggunakan teknologi sehingga masyarakat perlu mempersiapkan kemampuan baru.

“BAMAG juga akan memperlengkapi anggota-anggota jemaat agar nantinya bisa bekerja lewat digitalisasi, bukan yang manual lagi, karena pekerjaan manual dalam beberapa tahun ke depan bisa tertinggal dan diambil alih oleh digitalisasi,” ujar Romo Alexios.

Ia berharap pembinaan keterampilan digital dapat membuka peluang pekerjaan dan penghasilan bagi anggota jemaat, sekaligus membantu masyarakat tetap produktif.

Di sisi lain, Ketua BAMAG LKKI Surakarta, Pdt. Tertius Agus, mengingatkan pentingnya kecakapan dalam menyikapi derasnya arus informasi digital. Pengurus dan anggota organisasi diharapkan mampu memilah informasi serta tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.

“Kita bukan menjadi orang-orang yang membakar atau membuat tambah rusuh, tetapi kita ini menjadi air, membuat rasa tenang. Kita mengambil hal-hal positif dan baik dari media sosial, kemudian ikut menyebarkan informasi supaya kondisi tetap nyaman dan aman,” ungkap Pdt. Tertius.

Dari pihak pemerintah, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surakarta, Agus Santoso, berharap BAMAG LKKI dapat menjadi mitra pemerintah dalam menjaga kerukunan dan mendukung pembangunan daerah.

Menurut Agus, teknologi digital juga dapat dimanfaatkan untuk mempermudah pengelolaan organisasi, mulai dari administrasi, pendataan anggota, komunikasi, hingga pelaksanaan kegiatan.

“Kami juga berharap perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan organisasi. Administrasi, pendataan anggota, komunikasi, hingga pelaksanaan kegiatan bisa dilakukan dengan lebih mudah dan tertata,” tutur Agus.

Ia turut mendorong BAMAG LKKI mengembangkan kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan, UMKM, serta perikanan. Program tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata organisasi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Melalui pengukuhan pengurus BAMAG LKKI Kota Surakarta, pemerintah berharap terjalin kerja sama yang lebih kuat antara organisasi keagamaan, masyarakat, dan pemerintah daerah. Penguatan ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, serta peningkatan literasi digital menjadi sejumlah bidang yang dapat dikembangkan bersama.

Dengan demikian, BAMAG LKKI diharapkan tidak hanya berperan dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga ikut membangun kemandirian masyarakat dan menjaga kerukunan di tengah perubahan era digital.