SOLO, Metta NEWS – Wali Kota Solo Gibran Rakabuming belum lama ini dilaporkan oleh Ubedilah Badrun, seorang dosen yang juga aktivis 1998. Ubedilah melaporkan Gibran dan Kaesang, dua putra presiden Indonesia ini ke KPK atas tuduhan dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang.
Tidak hanya ini, sebelumnya Gibran juga pernah disangkut pautkan terlibat dalam kasus suap pengadaan Bansos Covid-19 yang menjerat Menteri Sosial Juliari Batubara.
Menanggapi hal tersebut, putra sulung Presiden Joko Widodo ini dengan tenang meminta semua tuduhan yang diarahkan padanya untuk dibuktikan.
“Yo ra popo, ga apa-apa. Maksud saya kalau ada berita jelek, apapun itu tuduhannya ya dibuktikan,” tuturnya ketika ditemui usai rapat Covid-19 di Balai Kota, Senin (17/01/2022).
Gibran bahkan menyebut kehebohan terbaru yang muncul terkait dengan munculnya foto snack di pesawat Garuda Indonesia yang bergambar ilustrasi wajah sang adik, Kaesang Pangarep.
“Yang masalah terakhir snack itu juga, nanti ada pers release dari Kaesang. Urusane Kaesang ini,” ujarnya singkat.
Gibran mengaku, sebagai seseorang yang selalu disorot oleh masyarakat karena posisinya sebagai wali kota dan anak presiden, dirinya telah siap dengan adanya pemberitaan dalam konteks negatif sekalipun.
“Siap kok, kalau soal dilaporkan itu monggo kalau mau diperiksa, mau dipanggil silahkan, tenang aja,” tambahnya.
Terkait laporan dosen UNJ yang tidak akan mencabut laporan ke KPK, Gibran menjawab dengan tenang.
“Yowislah, ra popo lah (ya tidak apa-apa tidak dicabut laporannya), seperti yang dulu juga tidak terbukti juga,” tandasnya.
Gibran menyatakan tetap tidak akan melaporkan balik Ubedilah.
“Ga akan lapor balik, kurang gawean wae,” tegasnya singkat.
Ketika ditanya laporan-laporan tersebut mempengaruhi elektabilitasnya, ayah Jan Ethes ini menjawab dengan yakin.
“Tidak berpengaruh ki, wong elektabilitas tetep apik, ya dilihat aja nanti sebulan apa dua bulan turun ga. Kan warga yang menilai, kalau saya ya tenang-tenang saja,” terangnya.
Gibran tetap menyerahkan penilaian-penilaian atas kinerjanya pada masyarakat.
“Lha ngopo tha elektabilitas, koyo aku meh neng ngendi wae lho. Ini kan fokus di Solo, saya tidak ngejar suara atau apa kok. Fokus di Solo,” tegasnya.
Soal elektabilitas naik atau turun, menurut Gibran adalah warga yang menentukan.
“Senang atau tidak warga yang menentukan. Lha mau kemana, itukan yang menghendaki warga tha, saya tidak bisa memutuskan sendiri. Iki neng Solo sek, neng Solo rung genep setahun (di Solo dulu, di Solo juga belum genap setahun jadi walikota),” ungkapnya.







