SOLO, MettaNEWS – Harga telur di pasaran masih tinggi hingga hari ini Jumat (26/8/2022). Di Pasar Legi Solo, rata-rata harga per kilogramnya mencapai Rp 29 ribu. Kenaikan harga telur ini juga berasal dari distributor atau pemasok.
Harga telur per peti distributor Muara Market mencapai Rp 400 ribu/14 kilogram. Sementara harga per kilogramnya Rp 28.500. Mimi (62) salah satu pemasok mengatakan kenaikan terjadi seiring minimnya jumlah ayam petelur dari peternak. Hingga saat tingginya permintaan untuk bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) terjadi, stok telur ayam minim.
“Kenaikan harga melonjak karena PKH keluar nanti kalau sudah satu bulan lagi makin turun, dulu pernah turun sampai Rp 16 ribu selama dua bulan jadi rugi total jadi ayamnya pada dijual,” kata Mimi kepada MettaNEWS, Jumat (26/8/2022).
Sebagai distributor yang memiliki kandang ayam petelur, pihaknya menyebut stok ayam yang dimiliki turun dari 10 ribu menjadi 2.500 ekor.
“Ini pas permintaan banyak harganya ditinggikan, wong kalau usaha itu kalau rugi nggak mau, ayamnya dulu 10 ribu sekarang 2.500 itu kan makannya banyak sampai puluhan juta ini naik sejak satu minggu, sekarang per kilogram Rp 28.500 kalau di kampung sampai Rp 30 ribu,” katanya.
Semenjak naik, pihaknya menyesuaikan penjualan dengan sistem ecer.
“Di sini juga ada yang beli 2,5 kg sama pedagang pasar sebenarnya nggak boleh tapi ya sudah nggak apa-apa harganya mahal ini pembelinya menurun karena harga satu kotaknya Rp 400 ribu uangnya terbatas juga buat yang lain-lain jadi pada ngecer, kalau habis baru beli lagi per peti,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo Heru Sunardi mengatakan stok telur ayam aman meski harga tinggi.
Dari pengarahan PPID Kemendagri, pihaknya menyebut kebutuhan pakan telur untuk PKH masih cukup tinggi. Alasannya pendistribusian ke kabupaten/kota tak kunjung usai.
“Mungkin kalau kabupaten kota disekitar ini penyaluran PKH-nya sudah selesai akan ada perbandingan akan kembali ke harga semula jadi antara Rp 23 ribu karena PKH tidak setiap hari hanya minggu ini,” katanya.
Normalnya harga telur ayam berada di kisaran Rp 22 ribu hingga Rp 23 ribu per kilogramnya. Menurutnya, kenaikan harga telur ayam tidak hanya di Kota Solo saja, namun di seluruh wilayah Solo dan sekitarnya.
“Kalau distributor yang ada di pasar Legi, teman-teman yang kami kenal itu mereka mengambil dari Kabupaten Karanganyar, Sragen,” ungkapnya.
Heru berpendapat naiknya harga telur ayam disebabkan banyak faktor seperti naikknya harga pakan ayam, harga sewa kandang, biaya perawatan, serta upah tenaga kerja.
Oleh karena itu, sebagai antisipasi ia menyampaikan usulan kepada Dinas Sosial agar penyaluran bantuan PKH tidak dilakukan secara serentak.
“Karena kalau penyalurannya itu serentak, pasti akan ada salah satu kebutuhan pakan pokok yang naik. Pertumbuhan bahan pokok yang naik itu akan menjadi penyumbang inflasi,gitu rentetannya,” imbuhnya.








