SEMARANG, MettaNEWS – Menjelang satu tahun kepemimpinannya di Jawa Tengah, Gubernur Ahmad Luthfi menjadi sorotan anggota DPRD Jawa Tengah. Namun sorotan tersebut justru bernada positif. Sejumlah legislator dari berbagai fraksi menilai Ahmad Luthfi memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda dibanding kepala daerah lain, yakni minim pencitraan dan lebih fokus pada kerja-kerja substansial.
Gaya kepemimpinan tersebut mendapat apresiasi lintas fraksi, mulai dari PKS, Golkar, hingga PDI Perjuangan yang sebelumnya berada di kubu berseberangan pada Pemilu 2024.
Sekretaris Fraksi PKS DPRD Jawa Tengah, Ida Nurul Farida, menilai kinerja gubernur dan wakil gubernur tidak bisa diukur dari seberapa sering tampil di ruang publik atau turun ke masyarakat. Menurutnya, tolok ukur utama adalah keberhasilan program dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Ia mencontohkan penurunan angka kemiskinan, pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), pembukaan lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, pemberian insentif guru agama, hingga pembangunan pondok pesantren yang manfaatnya dirasakan langsung oleh warga.
“Pak Gubernur ini model kepemimpinannya bukan pencitraan. Beliau bersama Wakil Gubernur Taj Yasin fokus pada kerja-kerja substansial. Program-program itu mungkin tidak populer, tapi dampaknya nyata di masyarakat,” tutur Farida, Senin (2/2/2026).
Menanggapi kritik dan komentar negatif netizen di media sosial, Farida menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Menurutnya, tidak mungkin seorang pemimpin dapat memuaskan semua pihak.
“Kalau menanggapi netizen tidak ada habisnya. Yang penting pemerintah menjalankan program sesuai rencana. OPD sudah melaksanakan program hingga 95 sampai 97 persen,” katanya.
Farida juga menambahkan, saat ini Gubernur dan Wakil Gubernur tengah disibukkan dengan penanganan bencana alam yang terjadi beruntun di Jawa Tengah sejak akhir 2025. Bencana banjir dan longsor tercatat melanda sejumlah daerah seperti Banjarnegara, Cilacap, Kudus, Jepara, Pati, Grobogan, Pekalongan, Pemalang, dan Purbalingga.
Apresiasi serupa disampaikan anggota Fraksi PDI Perjuangan, Messy Widiastuti. Legislator berlatar belakang dokter ini menilai Ahmad Luthfi dan wakilnya telah berbagi tugas secara ideal, terutama saat penanganan bencana alam. Komunikasi keduanya dinilai berjalan baik, termasuk saat penanganan bencana di kawasan Muria hingga Purbalingga.
“Semoga kinerja yang sudah baik ini bisa terus dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya,” ujar Messy.
Ia juga mengapresiasi program pembangunan sekolah rakyat yang dinilai mampu meringankan beban pendidikan masyarakat karena kebutuhan makan, seragam, hingga asrama ditanggung pemerintah.
Sementara itu, anggota Fraksi Partai Golkar, Padmasari Mestikajati, turut mengapresiasi kinerja Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur di tengah keterbatasan anggaran akibat pemotongan dana transfer dari pemerintah pusat serta tingginya intensitas bencana alam.
Meski demikian, ia menilai pemerintah provinsi tetap mampu melakukan akselerasi sehingga program-program strategis tetap berjalan. Salah satunya adalah program perlindungan dan pemberdayaan perempuan dan anak, termasuk pembangunan rumah perlindungan perempuan di tingkat bawah.
Terkait kritik soal minimnya kehadiran gubernur di lapangan, Mesti menegaskan bahwa kinerja kepala daerah tidak bisa diukur secara personal semata.
“Wilayah Jawa Tengah ini luas. Yang penting BPBD dan dinas terkait turun langsung. Kehadiran gubernur tidak bisa terus-menerus di semua lokasi,” tandasnya.
Ia juga mengapresiasi langkah gubernur yang menggandeng akademisi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan bencana berbasis riset, seperti yang dilakukan di wilayah Grobogan.







