SOLO, MettaNEWS – Jelang pemilihan ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) cabang Solo, tiga calon ketua umum mengikuti debat caketum Hipmi secara terbuka, Jumat (27/1/2023).
Tiga Caketum Hipmi Solo yakni Astrid Widayani, Rosanto Adi, dan Respati Ardi mengikuti debat caketum Hipmi dengan moderator oleh Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta Anas Syahirul.
Debat caketum Hipmi menghadirkan 3 panelis yang terdiri dari elemen akademisi, pemerintah, dan praktisi bisnis. Mereka adalah dosen fakultas ekonomi bisnis UNS, Dr. Mulyanto; Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Solo, Wahyu Kristina; dan Direktur Batik Danar Hadi, Dewanto Kusuma Wibowo.
Dalam visinya, Astrid Widayani ingin menjadikan kader Hipmi yang inovatif dan adaptif, bisa menciptakan lapangan kerja baru, serta menguatkan potensi ekonomi Surakarta.
Caketum nomor urut 2, Rosanto Adi ingin Hipmi Solo menjadi rumah para pengusaha muda untuk tumbuh berkembang. Serta bersinergi mengembangkan bisnis lintas sektoral dengan semangat inovasi dan optimalisasi.
Lalu Respati Ardi berniat mewujudkan iklim perusahaan yang kreatif dan inklusif bagi pengusaha muda di Kota Solo.
Debat Caketum Hipmi Solo Menyikapi Fenomena Thrifting
Ketika panelis meminta tanggapan terkait maraknya jual-beli pakaian bekas impor (thrift) di Kota Solo, ketiga Caketum dengan kompak menolak karena masalah legalitas. Hal ini berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.18/2022 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor.
Menurut Ardi, meredam tren thrifting mesti secara hati-hati. Salah satu upaya terdepan adalah menebarkan gairah penggunaan produk dalam negeri di tengah masyarakat.
“Kalau jadi Ketum Hipmi Solo ke depan, saya pengin melarang thrift market itu tapi pelan-pelan. Kita mulai dari diri sendiri, dari anggota Hipmi harus menggunakan produk dalam negeri,” kata Ardi.
Astrid menilai kualitas produk lokal sebenarnya tidak kalah dari impor. Baginya, penting untuk mendorong potensi bisnis setempat untuk melahirkan produk unggulan, sehingga dapat mengubah arah ketertarikan masyarakat yang semula menggandrungi pakaian bekas impor.
“Saya sebagai pengusaha muda sangat optimis dengan produk Indonesia, produk lokal, yang nantinya bisa kita kembangkan bersama, kita kuatkan produk lokal untuk bisa bersaing dan tidak akan membeli lagi produk thrift,” jelas Astrid.
Kemudian, Adi tak memungkiri bila produk thrift sangat menggiurkan bagi anak muda karena dapat menunjang penampilan untuk bisa masuk kelas sosial tertentu. Menurutnya, hal ini menjadi tantangan bagi pemain bisnis fashion lokal untuk menyaingi produk asal luar negeri.
“Bagaimana kita membuat product development dan marketing strategy yang tepat, kita akan mengumpulkan beberapa UMKM yang sama, memanggil konsultan dan kurator yang andal, sehingga produk kita naik kelas,” jelasnya.
Penguatan Database UMKM
Pemutakhiran data bagi Adi sangat penting. Ia ingin website Hipmi Solo menjadi lumbung informasi tentang profil seluruh anggota, termasuk bisnis yang sudah berjalan. Menurut dia, kategorisasi industri penting untuk membagi fokus yang kaitannya dengan langkah kolaborasi ke depan. Ia berharap upaya ini bisa mengembangkan usaha secara signifikan.
“Ada 16 industri yang kita kelompokkan. Setelah itu kita bisa mengemas dalam forum group discussion per industri tersebut. Dalam forum itu kita akan mengetahui apa yang kita butuhkan terkait operasional, kemudian kita akan bekerja sama dengan Hipmi atau kota lain sehingga kita bisa melangkah bersama,” kata Adi.
Adi menilai optimalisasi website merupakan perihal yang cukup menentukan bagi anggota Hipmi untuk meluaskan jaringan.
“Kalau dalam anggota Hipmi saja kita tak kenal satu sama lain, tidak mengerti industri yang lain, bagaimana kita bisa memperkenalkan kepada masyarakat luar,” jelas Direktur Operasional Rosin Group itu.
Strategi Bangun UMKM Tangguh
Ardi merasa permasalahan UMKM saat ini adalah penumpukan pekerjaan. Menurutnya, penting untuk membuat dua klaster, yakni produksi dan penjualan, sehingga aktivitas perdagangan bisa berjalan maksimal. Dan ia meyakini Koperasi Multi Pihak jadi solusi atas persoalan tersebut.
Direktur PT Limaraya Sejahtera Energi itu sudah menyiapkan sejumlah program yang mengarah pada peningkatan kelas UMKM, seperti Hipmi Mentoring. Ia ingin merangkul pengusaha sebanyak mungkin untuk bisa maju bersama.
“Di program Hipmi Upscale, ada legalitas badan usaha gratis. Bila jadi ketua Hipmi ke depan, saya akan memberikan satu badan usaha gratis setiap bulan sekali untuk UMKM yang naik kelas,” tambah notaris PPAT itu.
Selain itu, Ardi telah mengantongi program Hipmi Afiliator untuk menggenjot pemasaran produk.
“Produk teman-teman akan kita carikan talenta digital untuk menggunakan afiliator untuk berjualan,” ujarnya.
Ke depannya, bila menjadi nakhoda Hipmi, Ardi juga berniat untuk menggelar Hipmi Fest guna memperkenalkan produk lokal yang tentunya tak kalah bersaing dengan produk luar negeri.
“Nantinya saya ingin menarik Hipmi seluruh Indonesia, masing-masing kabupaten, bahkan provinsi untuk menampilkan produk dalam negeri,” tutur alumni UNS dan UGM itu.
Upaya Hipmi Atasi Penganggura
Bagi Astrid, melakukan pendampingan UMKM bukan sebuah hal baru. Ia mengaku sudah menjalaninya selama bertahun-tahun. Dari pengalaman itu, ia telah merumuskan program yang menurutnya bisa menjadi pemecah persoalan tentang UMKM.
“Dari segi UMKM itu tidak hanya inkubasi, training, tetapi juga kita bertanggung jawab pada hulu-hilirnya. Sampai ke penjualan, menyiapkan showcase, kolaborasi dengan pemerintah,” terang perempuan berusia 36 tahun itu.
“Rencananya saya juga akan memanfaatkan lantai 2 pasar tradisional sebagai tempat berjualan. Termasuk penyediaan sentra yang nantinya bisa menjadi ciri khas produk kota Solo,” sambungnya.
Terkait masalah pengangguran di Kota Solo, Astrid mengaku sudah menempuh solusi. Tentunya ia bakal menggandeng Dinas Tenaga Kerja setempat. Ia meyakini setiap wilayah berpotensi untuk menciptakan lapangan kerja baru, sehingga angka pengangguran bisa berkurang.
“Ada Kampung Berdaya Solo. Kita melihat potensi ketenagakerjaan untuk pembukaan lapangan kerja baru berbasis potensi kewilayahan,” tutup Ketua Yayasan UNSA itu.








