SOLO, MettaNEWS – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Darul Arqam Pimpinan pada Rabu–Sabtu (7–10/1) sebagai upaya peneguhan ideologi, penguatan komitmen bermuhammadiyah, serta penguatan tata kelola amal usaha berbasis nilai tauhid.
Kegiatan yang berlangsung di MTs Muhammadiyah Program Khusus Bayat, Klaten ini dihadiri unsur Pimpinan Pusat, Wilayah, Daerah, Cabang, hingga Ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, mencerminkan semangat One Muhammadiyah yang utuh.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa Darul Arqam bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sarana membumikan ideologi Muhammadiyah agar semakin dekat dengan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
“Darul Arqam harus dekat dengan AUM, bukan di hotel. Ini bagian dari peneguhan komitmen bermuhammadiyah dan ber-‘Aisyiyah. AUM yang sering dikunjungi pimpinan akan menjadi rejo, magnet kebaikan dan kemajuan,” jelasnya saat pembukaan kegiatan.
Ia juga mengaitkan suasana rejo tersebut dengan kepercayaan publik terhadap UMS. Hingga malam sebelum pembukaan Darul Arqam, pendaftar mahasiswa baru UMS mendekati 3.000 orang, dengan lebih dari 500 calon mahasiswa telah melakukan registrasi.
Memasuki awal tahun 2026, Harun menyampaikan empat pesan reflektif, yakni pentingnya evaluasi menyeluruh, penguatan kolaborasi lintas struktur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, pelurusan niat dalam mengelola Perguruan Tinggi Muhammadiyah, serta penanaman keikhlasan agar seluruh aktivitas bernilai ibadah dan dakwah.
“Tata kelola UMS harus mengikuti sosiologi Muhammadiyah. Dana yang belum terserap bukan hilang, tetapi menjadi energi untuk pengembangan strategis ke depan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMS, Drs. H. A. Marpuji Ali, M.Si., mengajak seluruh pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan menjadikan Darul Arqam sebagai momentum peningkatan kualitas diri dan institusi. Ia menekankan pentingnya menjadi sabiqun bil khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.
“Kalau UMS ingin lebih maju, kita harus menjadi sabiqun bil khairat. Nilai ihsan akan mendorong kemajuan yang berkelanjutan,” ungkapnya seraya mengapresiasi capaian UMS di bidang penelitian.
Dalam amanatnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa Darul Arqam memiliki posisi strategis dalam menjaga ruh ideologi persyarikatan. Menurutnya, Muhammadiyah adalah organisasi berbasis sistem yang digerakkan oleh nilai.
“Tanpa nilai, sistem akan kering. Nilai itu adalah Islam, Islam yang berkemajuan,” tegas Haedar.
Ia menambahkan bahwa prinsip One Muhammadiyah dan One UMS harus dimaknai sebagai integrasi seluruh elemen dalam satu tubuh persyarikatan, bukan sekadar slogan. Kepemimpinan di UMS, lanjutnya, merupakan amanah yang menuntut integritas, karakter, dan semangat Al-Ma’un.
“Kita ingin UMS tidak hanya besar secara fisik, tetapi unggul dalam pembangunan manusianya,” ujarnya.
Pembukaan Darul Arqam Pimpinan UMS ditutup dengan prosesi serah terima simbolik peserta kepada Master of Training dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kegiatan ini meneguhkan langkah UMS menuju One UMS, One Muhammadiyah, One Destinasi, dan One Tauhid.








