TEMANGGUNG, MettaNEWS – Angin kencang, medan terjal, hingga jurang menghadang perjuangan para relawan saat memadamkan kebakaran di Gunung Sumbing. Tanpa peralatan pemadam yang memadai, mereka berjibaku menjinakkan api secara manual, bermodal kayu dan keberanian demi mencegah si jago merah meluas ke kawasan lain.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Kebakaran yang melanda kawasan Gunung Sumbing di wilayah Kabupaten Temanggung, Wonosobo, dan Magelang dinyatakan padam 100 persen pada Sabtu (24/10/2026). Namun, di balik keberhasilan tersebut, tersimpan cerita tentang perjuangan para relawan, pengalaman menghadapi kebakaran berulang, serta harapan warga agar bencana serupa tidak kembali terjadi.
Salah satu cerita datang dari Jumari, yang akrab disapa Petruk. Wakil Ketua Basecamp Pendakian Bimawari di Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, itu menjadi salah seorang relawan yang turun langsung membantu pemadaman.
Saat ditemui di Basecamp Bimawari, Minggu (25/10/2026), Petruk menceritakan bagaimana dirinya bersama rekan-rekannya bergerak setelah menerima kabar kebakaran dari wilayah Wonosobo. Kekhawatiran semakin besar ketika api mulai menjalar ke sisi Temanggung dan mendekati jalur pendakian Bimawari.
“Mulai kebakaran itu sekitar pukul 16.00 pada Senin. Kami mendapat kabar dari Wonosobo. Selasa, kami melakukan penyisiran untuk memastikan pendaki yang masih berada di atas, termasuk di Segoro Wedhi, sudah aman,” ujarnya seusai berdialog dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.
Berhadapan dengan Angin Kencang dan Jurang
Setelah memastikan keselamatan para pendaki, Petruk bersama relawan berupaya mengamankan berbagai aset di sepanjang jalur pendakian. Pada Rabu, mereka menyelamatkan sejumlah fasilitas, seperti patok penanda jalur dan kamera pengawas atau CCTV.
Upaya penanganan berlanjut pada Kamis (22/10/2026). Personel Basecamp Bimawari bergabung dengan relawan dari Basecamp Batursari untuk memadamkan titik api. Keesokan harinya, mereka kembali bergerak bersama personel Basecamp Banaran menangani kebakaran di kawasan Jalur Cepit dan Glapansari.
Perjuangan tersebut tidak mudah. Angin kencang di kawasan puncak membuat api cepat menjalar, sementara medan terjal menyulitkan relawan menjangkau lokasi kebakaran.
Sejumlah titik api bahkan berada di dekat jurang. Para relawan terpaksa mencari jalan memutar untuk mencapai lokasi, sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak.
Keterbatasan peralatan turut menjadi tantangan. Mereka harus memadamkan api secara manual dengan memanfaatkan kayu untuk menjinakkan kobaran yang mengancam kawasan hutan.
“Kendalanya angin karena di atas kencang, jadi agak susah untuk memadamkan api. Medannya juga lumayan berat karena ada jurang. Ada titik api di jurang, kami harus memutar lagi. Proses pemadaman kami lakukan secara manual, pakai kayu,” tutur Petruk.
Setelah berjibaku selama beberapa hari, para relawan akhirnya bisa bernapas lega. Pada Sabtu, api dinyatakan padam dan mereka melanjutkan proses pendinginan di kawasan Segoro Wedhi untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
“Lalu pada Sabtu, api sudah padam semua dan kami melakukan pendinginan di Segoro Wedhi,” katanya.
Pengalaman Kebakaran 2019 Jadi Bekal
Bagi Petruk dan rekan-rekannya, kebakaran kali ini bukan pengalaman pertama. Ia masih mengingat kebakaran besar yang melanda Gunung Sumbing pada 2019 dan menyebabkan kerusakan parah di kawasan terdampak.
Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi para relawan untuk memahami karakter medan dan tantangan pemadaman. Meski demikian, mereka menyadari pengalaman saja tidak cukup untuk menghadapi kebakaran yang sewaktu-waktu dapat kembali terjadi.
“Paling besar sebelumnya tahun 2019, itu habis. Jadi, untuk kali ini sudah ada pengalaman dari kejadian sebelumnya,” ujarnya.
Para relawan berharap dukungan peralatan dan infrastruktur ditingkatkan agar penanganan kebakaran berikutnya dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Harapan serupa disampaikan Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji. Dalam dialog bersama Ahmad Luthfi di Basecamp Bimawari, ia menyebut kebakaran Gunung Sumbing memiliki pola berulang dalam rentang sekitar delapan tahun. Kondisi itu, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kesiapsiagaan.
Agus mengusulkan pembangunan embung di kawasan Perhutani sebagai cadangan air, terutama ketika musim kemarau. Selain itu, jalur penyelamatan dinilai penting untuk mempercepat mobilisasi petugas dan relawan saat kebakaran terjadi.
“Kalau bisa dibuatkan embung di kawasan Perhutani, karena untuk minum saja kadang susah waktu kemarau. Lalu, jalur penyelamatan untuk percepatan pemadaman api,” ujarnya.
Kebakaran Berdampak pada Sumber Mata Air
Bagi warga Desa Wonosari, dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan vegetasi. Ketersediaan air bersih juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Agus menjelaskan, kebakaran di kawasan Gunung Sumbing dapat diikuti penurunan debit sumber mata air. Pemulihannya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun, sementara kebutuhan air warga semakin terasa ketika musim kemarau tiba.
Karena itu, ia berharap pembangunan sumur resapan di kawasan Perhutani dapat membantu menjaga kestabilan sumber mata air. Saat ini, di Desa Wonosari telah terdapat sekitar 200 sumur resapan.
“Kalau ada sumur resapan di daerah Perhutani, itu akan membantu kestabilan sumber mata air warga. Di desa kami sudah ada sekitar 200 sumur resapan,” imbuhnya.
Bagi masyarakat lereng Sumbing, penanganan bencana tidak cukup berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Pemulihan vegetasi, perlindungan sumber air, dan pembangunan infrastruktur pendukung harus menjadi bagian dari upaya pascabencana.
Warga lainnya, Muhadi, juga mengusulkan pengadaan peralatan yang dapat dikelola oleh masing-masing basecamp. Salah satu yang dinilai penting adalah drone untuk memetakan dan memantau titik api sejak dini.
Dengan dukungan teknologi tersebut, petugas dan relawan diharapkan bisa mengetahui lokasi kebakaran lebih cepat serta menentukan langkah penanganan yang tepat. Peralatan itu juga dapat dimanfaatkan untuk operasi pencarian dan pertolongan apabila ada pendaki yang hilang atau tersesat.
“Harapannya, ini yang terakhir. Kami minta beberapa alat agar bisa memetakan lebih awal, tidak hanya soal kebakaran, tetapi juga hal lain, termasuk pencarian kalau ada pendaki yang hilang atau tersesat,” kata Muhadi.
Ahmad Luthfi Minta Evaluasi Pascakebakaran
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan relawan yang berjibaku memadamkan api. Meski kebakaran telah dinyatakan padam, ia meminta seluruh pihak tetap meningkatkan kewaspadaan dan melakukan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Menurut Luthfi, koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, relawan, dan pengelola kawasan hutan perlu diperkuat, baik dalam pemantauan maupun penanganan dampak kebakaran.
Ia juga menekankan pentingnya evaluasi berdasarkan data yang faktual dan akurat. Pendataan harus mencakup luas kawasan terbakar serta dampaknya terhadap lingkungan, termasuk vegetasi dan satwa liar di wilayah Temanggung, Wonosobo, dan Magelang.
“Yang kita evaluasi adalah upaya pascabencana. Di antaranya, kebutuhan dasar masyarakat harus terpenuhi, seperti air bersih, juga reboisasi,” kata Ahmad Luthfi saat meninjau lokasi dan bertemu relawan di Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Minggu (25/10/2026).
Padamnya api menjadi akhir dari perjuangan panjang para relawan di lereng Sumbing. Namun, pekerjaan berikutnya masih menanti: memulihkan lingkungan, menjaga ketersediaan air bersih, dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.
Bagi Petruk dan warga sekitar, pengalaman kali ini menjadi pelajaran berharga. Mereka berharap kerja keras yang dilakukan dengan peralatan terbatas tidak perlu kembali terulang, dan kebakaran di Gunung Sumbing benar-benar menjadi yang terakhir.








