SOLO, MettaNEWS – Masuk sebagai salah satu kota di Indonesia dengan ancaman bencana alam yang cukup tinggi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB).
Pembentukan forum ini melalui lokakarya ke 2 yang diadakan, Kamis (10/11/2022) yang dihadiri dari berbagai stakeholders.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Surakarta, Nico Agus Putranto menjelaskan FPRB akan menjadi mitra atau partner BPBD dalam pengurangan risiko bencana di Surakarta.
“Solo punya potensi bencana yang cukup tinggi. Sehingga diharapkan terbentuk forum dari unsur pentahelik yang diharapkan dapat memberikan masukan pada pemerintah mengenai daerah potensi rawan bencana, waktu terjadi bencana dan pasca bencana,” kata Niko.
FPRB mengumpulkan unsur pentahelik seperti dari Pemerintah, dunia usaha, masyarakat atau komunitas, akademisi dan media massa.
“Dengan FPRB diharapkan dapat memperkecil dampak yang akan terjadi apabila bencana ini datang. Karena kita tidak tahu kapan bencana ini datang. Peran serta pentahelik dapat memberi masukan dan berperan aktif, kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan pada kejadian bencana di Surakarta,” ungkap Niko.

Sementara itu, Deputy Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi yang memberikan materi penguatan pada forum pengurangan resiko bencana menyampaikan data kejadian bencana dari Januari hingga November tahun ini, terjadi sebanyak 3101 bencana.
“Solo di dominasi kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir. Penanganan bencana ini adalah urusan bersama. Sudah tepat kalau unsur pentahelik lebih dikuatkan untuk mengurangi resiko bencana.
Prasinta Dewi menjelaskan dari bencana tersebut menimbulkan kerugian hunian, sarana umum hingga korban jiwa.
“Dengan adanya forum dari unsur pentahelik ini diharapkan bisa mengurangi kerusakan infrastruktur, jumlah kerugian akibat bencana, jumlah penduduk yang terkena dan jumlah korban,” ungkapnya.
Prasinta mengatakan, masih ada PR untuk pemerintah terkait bencana yakni peningkatan informasi dan peringatan dini. Saat ini lanjut Sinta sudah ada beberapa wilayah yang memasang peringatan dini seperti letusan gunung berapi, banjir dan tanah longsor.
“Juga meningkatkan kerja sama internasional. Bagaimana menguatkan relawan, koordinasi dengan dunia usaha, akademisi dan beberapa elemen harus dilibatkan dam strategi pengurangan resiko bencana. Kearifan lokal juga sangat mendukung dalam penanggulangan bencana,” ungkapnya.
Hal penting yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak bencana adalah sosialisasi selamat dalam durasi golden time.
“Yang penting ditekankan bagi masyarakat ketika terjadi bencana ada empat elemen yakni kesiapsiagaan diri sendiri, dukungan ibu dan keluarga, dukungan teman dan tetangga dan yang terakhir justru tim penolong. Golden time saat terjadi bencana ini penting untuk diterapkan,” pungkasnya.








