Bisnis Kurma Cukup Menjanjikan, Ismail Berbagi Tips untuk Cuan saat Ramadan

oleh
kurma
Ismail Miraldi (35) pemilik dua outlet kurma di Pasar Kliwon Solo tengah mengecek persediaan, Senin (10/3/2025) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Bisnis kurma cukup menjanjikan saat bulan suci Ramadan. Salah satu toko kurma Mirallbe Al Muslim, milik Ismail Miraldi merasakan banyak kebanjiran pesanan. Setiap harinya setengah hingga satu ton kurma terjual di tokonya.

Bisnis yang awalnya hanya coba-coba ini miliki omzet yang cukup menjanjikan. Kendati demikian, pasang surut Ismail rasakan sejak pertama kali terjun ke bisnis ini pada tahun 2010 silam.

Di awal berjualan, Ismail hanya menjual tiga sampai lima jenis kurma saja di outlet kecil miliknya yang terletak di Jalan Kapten Mulyadi, Pasar Kliwon, Solo.

Saat itu Ismail belum berani menjual secara grosir, hanya eceran dengan jumlah yang tak sebanyak sekarang. Dengan tekun Ismail menggeluti bisnis kurma ini. Meski tak banyak yang ia dapat di awal berjualan, Ismail optimis usahanya akan berkembang.

“Sejak tahun 2010 sudah buka outlet tapi kecil-kecilan kurma belum sebanyak ini. Alasannya dulu coba-coba dan takut kalau nggak laku risiko rusak,” ujarnya bercerita kepada Mettanews, Senin (11/3/2025).

Tantangan yang dihadapi juga tak mudah. Kurma-kurma yang ia dapatkan dari importir terkadang terdapat kutu.

“Tantangannya seringnya kutu, dari importir itu di perjalanannya dari sebulan sampai satu bulan setengah. Waktu sebulan bisa timbul kutu dari pelepah kurmanya, yang kena itu pedagangnya dipikir jual barang lama,” bebernya.

Ismail tak kehilangan cara, ia sudah tahu bagaimana menghadapi tantangan ini. Pengalaman yang terus ia dapatkan membuatnya mengerti apa yang harus dilakukan ketika mendapati kutu di kurmanya.

“Kutu di kurma itu terbilang wajar, bisa dihilangkan dan masih aman. Caranya ditaruh kulkas pendingin nanti kutunya mati yang penting jangan ulet. Kalau ulet nggak boleh, kalau kutu masih taraf wajar yang penting kutunya nggak banyak,” jelasnya.

Memasuki tahun kelima, bisnis kurma miliknya mulai berkembang. Ia banyak menjual kurma impor dengan beragam jenis.

“Berjalannya waktu bisa nyerateni (nekuni-red) dan alhamdulillah, sudah mulai impor. Dulu itu dari importir nyebar sales masuk ke toko-toko. Akhirnya berkembang jadi beberapa outlet,” kata Ismail.

Banyaknya jenis kurma yang ia jual menjadi salah satu kunci keberhasilan Ismail di bisnis ini. Ia juga berani memberi harga yang mampu bersaing dengan outlet kurma lain di Pasar Kliwon

“Tipsnya bisa berkembang terutama jenis kurmanya dikomplitin dibanyakin. Dulu Cuma tiga sampai lima jenis, sekarang ada 25-an jenis kurma. Paling banyak Arab, Kurma sama Tunisia. Harganya juga agak diselisihin dari toko lain biar menarik. Lalu kita boleh memberi icip-icip supaya orang tahu rasanya, sama sedekah juga, karena sedekahlah walau hanya satu butir kurma,” ujarnya.

Selain saat bulan Ramadan, banyaknya permintaan kurma untuk oleh-oleh umroh menjadi alasan ia mampu bertahan.

“Permintaan oleh-oleh umroh juga banyak. Umroh stabil meningkat,” ujarnya.

Ia pun berbagi tips bagi pemula yang ingin menjajal bisnis kurma untuk tetap bertahan salah satunya dengan tidak terlalu banyak kulakan.

“Tips untuk awal mula jangan terlalu agresif kulakan banyak, kalau nggak tahu malah bisa rugi banyak bukan untung malah rugi. Coba tu dikit-dikit dulu lihat pangsa baru nanti bisa ambil barang banyak,” jelasnya.

Tips lain ialah dengan mengikuti komunitas dan berada di satu lingkungan dengan penjual kurma.

“Biasanya kalau sudah komunitas, sales langsung datang ke lokasi. Kalau Solo prospek oleh-oleh haji di Pasar Kliwon, dia akan langsung ke Pasar Kliwon. Kalau menyendiri malah susah jadi harus relasi sama kompleks. Kalau Semarang di Kauman, Surabaya di Ampel, komunitas itu penting,” pungkasnya.