SOLO, MettaNEWS – Cegah penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Solo melakukan monitoring ternak di Pasar Kambing, Semanggi, Solo, Senin (16/5). Dari hasil monitoring ke 200 kambing, DKPP belum menemukan adanya kambing yang terjangkit PMK.
Monitoring ini dilakukan dengan melakukan pengecekan kondisi mulut kambing. Merupakan cara deteksi dini adanya PMK, petugas yang melakukan monitoring membuka mulut kambing untuk mengetahui ada atau tidaknya ciri-ciri PMK. Selain itu pendataan kambing ini juga dilakukan dengan cara melakukan pengecekan asal distribusi kambing. Dari hasil pendataan sementara, kambing-kambing ini didapatkan dari daerah Wonogiri, Klaten, Sragen dan Karanganyar.
“Kebetulan ini pasar kambing satu-satunya di Solo, jadi dalam rangka antisipasi penyakit mulut dan kuku, ada tidaknya gejala, kita sosialisasi ke pedagang masyarakat untuk gejala PMK. Serta proses laporan seperti apa kalau ditemukan kasus,” ucap Agus Sasmito, Kepala Bidang Veteriner Dinas Ketahanan saat ditemui di Pasar Kambing, Semanggi, Senin (16/5/2022).
Akan menindak lanjuti monitoring di hari Rabu (17/5) mendatang, pihaknya akan kembali melakukan monitoring kembali ditempat berbeda yakni di Pasar Ayam, Semanggi, Solo.
“Kita tindak lanjuti hari Rabu, kita adakan disinfeksi rutin di Pasar Ayam untuk antisipasi wabah PMK,” imbuhnya.
Sementara itu, dari dua ratusan kambing yang diperiksa, Agus menyatakan bahwa kondisi kambing di Pasar Kambing ini dalam kondisi sehat tanpa gejala.
“Untuk pasar kambing sebagian besar masih di sekitaran Soloraya, jadi paling banyak di Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Sukoharjo, karena ini kan pasar ternak yang (lokasinya) agak selatan,” tutur Agus.
Melakukan antispasi, Agus menyebut persebaran virus PMK terjadi melalui udara. Sehingga hal ini perlu diwaspadai.
“Kebetulan kita tidak mempunyai pasar sapi, hanya ada di RPH (Rumah Potong Hewan), kemudian jarang yang keluar masuk. Yang dikhawatirkan kan transmisi lewat udara, kita usaha antisipasi itu,”
Selain itu, pihaknya juga akan melaukan monitoring hewan ternak di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo. Dimana tempat ini merupakan tempat bagi 320 sapi pemakan sampah. Dikhawatirkan menjadi hewan ternak yang teriindikasi terjangkit PMK, pihaknya akan melakukan pengecekan kesehatan.
“Ada untuk Putri Cempo kita jadwalkan besok pagi, kita lakukan door to door di sekitar dikandangkan, terus yang sore dua kampung sekitar Putri Cempo,” ucapnya.
Agus menyebut untuk sapi atau pun kambing di TPA Putri Cempo belum dilakukan pemeriksaan.
“Ada 320 sapi dari data terakhir Maret. Kita belum melakukan pemeriksaan, besok kita lakukan pemeriksaan,” imbuhnya.
Untuk informasi, PMK ini menyerang hewan ternak berkaki belah. Penyakit ini ditandai dengan adanya pembentukan vesikel/lepuh dan erosi di mulut, lidah, gusi, nostril, puting, dan di kulit sekitar kuku. Akan fokus pada hewan berkaki belah untuk dilakukan pengecekan, pihaknya menegaskan sapi dan kambing menjadi sasaran utama.
“Semua hewan berkuku belah, akan kita periksa, kalau babi hari terakhir kita fokus monitoring yang bekuku belah,” jelasnya.
Sebagai dokter hewan di DPKPP, Agus menyebut daging hewan yang terjangkit PMK aman dikonsumsi.
“Daging potong pemantauan ada, daging produk hewan sapi aman untuk dikonsumsi tidak membahayakan ke manusia. PMK ini kan tidak membahayakan manusia, sekalian sosialisasi untuk PMK aman untuk produknya asal benar cara mengolahnya, untuk pemantauan ada setiap hari,” terang Agus.
Dalam monitoring ini, pihaknya bekerjasama dengan satuan tugas (Satgas) pangan Polresta Solo untuk melakukan pengecekan yang lebih mendalam dan detail.
“Sejauh tadi pantauan kami sebagian belum membawa. Kalaupun tidak ada hewan harus tetap sehat,” tutup Agus.








