Bedah Buku Bersama Lenang Manggala, Mahasiswa PPG UTP Didorong Jadi Guru Inovatif dan Tak Berhenti Belajar

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Menjadi guru profesional dituntut terus belajar, berinovasi, serta mampu menghadirkan pembelajaran kreatif yang menginspirasi peserta didik. Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam kegiatan Diseminasi Karya Inovasi Mahasiswa PPG dan Bedah Buku bersama Lenang Manggala, Founder Nyalanesia, di Garena, Solo Technopark, Kamis (5/11/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta ini menjadi ruang bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk mempresentasikan hasil inovasi pembelajaran sekaligus memperluas wawasan melalui diskusi bersama praktisi pendidikan dan penulis buku.

Enam mahasiswa PPG UTP dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) berkesempatan mempresentasikan karya inovasi terbaik mereka.

Karya-karya tersebut merupakan bentuk kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi sekaligus menerapkan gagasan inovatif untuk menjawab kebutuhan pembelajaran di sekolah.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan bedah buku berjudul Guru yang Berhenti Belajar Sebaiknya Berhenti dari Mengajar bersama Lenang Manggala.

Melalui diskusi interaktif, peserta diajak merefleksikan kembali peran guru sebagai pembelajar sepanjang hayat, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi, perubahan karakter peserta didik, dan dinamika dunia pendidikan.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Rektor I, II, dan III UTP, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Ketua Program Studi PPG, serta sejumlah dosen UTP.

Mahasiswa PPG Harus Mampu Melahirkan Inovasi Pembelajaran

Wakil Rektor I UTP, Prof. Dr. Ir. Suswadi, M.Si., yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa inovasi dan pengembangan kompetensi merupakan bagian penting dalam membentuk guru profesional.

Menurutnya, mahasiswa PPG harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan inovasi yang tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran secara nyata.

“Mahasiswa PPG harus mampu mengembangkan kreativitas dan menghadirkan inovasi dalam pembelajaran. Karya yang dihasilkan tidak hanya menjadi bukti kompetensi akademik, tetapi juga harus memiliki nilai manfaat dan dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan pendidikan di lapangan,” ungkap Suswadi.

Ia berharap karya inovasi yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas perkuliahan, tetapi dapat dikembangkan menjadi praktik baik yang memberikan manfaat bagi dunia pendidikan.

Guru Harus Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Dekan FKIP UTP, Dr. Teguh Santosa, M.Pd., juga menekankan pentingnya membangun karakter calon guru yang adaptif, kreatif, dan memiliki kemauan untuk terus mengembangkan diri.

Menurut Teguh, menyelesaikan pendidikan formal bukan berarti proses belajar seorang guru telah berakhir. Sebaliknya, profesi guru menuntut seseorang untuk selalu memperbarui pengetahuan dan keterampilannya agar mampu mengikuti perkembangan zaman.

“Menjadi guru bukan berarti berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan. Justru guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, terbuka terhadap perubahan, serta mampu menciptakan pembelajaran yang kreatif dan bermakna bagi peserta didik,” tuturnya.

Pesan tersebut sejalan dengan tema bedah buku yang mengingatkan bahwa kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemauan guru untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Diseminasi Jadi Ruang Berbagi Praktik Baik Mahasiswa

Sementara itu, Kaprodi PPG UTP, Erik Teguh Prakosa, M.Pd., Kons., menjelaskan bahwa diseminasi karya inovasi menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan hasil proses pembelajaran sekaligus berbagi pengalaman dan praktik baik.

Menurutnya, mahasiswa PPG perlu memiliki kemampuan lebih dari sekadar memahami teori pendidikan. Mereka juga harus mampu menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi karya yang dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran.

“Kami ingin mahasiswa PPG tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan karya inovatif yang bisa diimplementasikan dalam pembelajaran. Melalui diseminasi ini, mahasiswa juga belajar membangun kepercayaan diri, mengomunikasikan gagasan, dan saling menginspirasi,” jelas Erik.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus menjadi wadah pengembangan kompetensi mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Lenang Manggala: Calon Guru Harus Hadir Membawa Karya dan Inspirasi

Lenang Manggala, Founder Nyalanesia sekaligus penulis buku Guru yang Berhenti Belajar Sebaiknya Berhenti dari Mengajar, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan diseminasi karya inovasi mahasiswa PPG UTP.

Dalam kesempatan tersebut, Lenang menyampaikan pesan kepada para calon guru agar terus meningkatkan kualitas diri dan tidak kehilangan semangat untuk belajar serta berkarya.

Menurutnya, ruang kelas membutuhkan kehadiran guru yang tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga membawa kreativitas, gagasan, dan inspirasi bagi peserta didik.

Ditemui Tim Humas UTP Surakarta setelah mengisi sesi bedah buku, Lenang berharap mahasiswa PPG dapat menjadi guru yang memberikan dampak nyata bagi perkembangan pendidikan.

“Selamat atas terselenggaranya pameran karya inovasi mahasiswa PPG. Ini menjadi langkah positif untuk terus belajar dan mengembangkan diri menjadi guru yang lebih baik. Harapannya, para calon guru nantinya dapat hadir di ruang-ruang kelas dengan membawa karya, kreativitas, dan inspirasi bagi peserta didik. Terus semangat menjadi guru yang mampu memberikan dampak nyata bagi dunia pendidikan,” ungkap Lenang.

Pesan tersebut sekaligus memperkuat gagasan bahwa profesi guru membutuhkan komitmen untuk terus bertumbuh. Guru harus terbuka terhadap gagasan baru, berani mencoba metode pembelajaran berbeda, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan peserta didik.

Melalui kegiatan Diseminasi Karya Inovasi Mahasiswa PPG dan Bedah Buku ini, UTP Surakarta terus mendorong lahirnya calon guru yang profesional, kreatif, adaptif, serta memiliki semangat belajar sepanjang hayat.

Sebab, guru hebat bukan hanya mereka yang mampu mengajar dengan baik, tetapi juga mereka yang tidak pernah berhenti belajar, terus menghasilkan karya, dan mampu menyalakan inspirasi bagi generasi penerus bangsa.