SOLO, MettaNEWS – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Surakarta mendampingi 219 siswa SMPN 24 Program Khusus Surakarta dalam simulasi pemilihan ketua OSIS secara elektronik atau e-voting, Rabu (7/10/2026). Kegiatan ini menjadi sarana mengenalkan nilai-nilai demokrasi sejak dini sekaligus mempersiapkan generasi muda menjadi pemilih cerdas pada Pemilu 2029.
Kegiatan yang berlangsung di aula SMPN 24 Program Khusus Surakarta tersebut merupakan bagian dari program kokurikuler Suara Demokrasi. Bawaslu Kota Surakarta hadir sebagai pendamping sekaligus narasumber melalui Agus Sulistyo dan Poppy Kusuma NW.
Sebelum mengikuti simulasi pemilihan secara elektronik, para siswa mendapatkan pemahaman mengenai praktik demokrasi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan sekolah.
Demokrasi, menurut pemaparan dalam kegiatan tersebut, dapat dimulai dari kebiasaan bermusyawarah, menghargai pendapat teman, bersikap hormat dan santun kepada guru maupun orang lain, serta berani menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi digital, siswa juga diingatkan agar membiasakan diri melakukan pemeriksaan fakta sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.
“Demokrasi itu sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekolah. Berani berpendapat, menghargai pendapat orang lain, dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya,” ujar Poppy, yang akrab disapa sebagai Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu.
Ajarkan Sportivitas dan Sikap Menghargai Perbedaan
Selain mengenalkan tata cara pemilihan, pendidikan demokrasi tersebut menekankan pentingnya sikap menerima hasil pemilihan dengan lapang dada.
Dalam pemilihan ketua OSIS, perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar. Siswa yang terpilih maupun yang belum memperoleh kemenangan diharapkan tetap saling menghormati tanpa menimbulkan permusuhan atau ujaran kebencian.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membangun budaya demokrasi yang sehat. Para siswa tidak hanya diajak memahami hak untuk memilih, tetapi juga belajar menerima keputusan bersama dan menghargai pilihan orang lain.
Antusiasme peserta terlihat ketika simulasi e-voting dimulai. Dengan memanfaatkan gawai masing-masing, para siswa mengikuti proses pemilihan secara elektronik.
Penggunaan teknologi digital membuat pengalaman berdemokrasi terasa lebih dekat dengan keseharian siswa sebagai bagian dari Generasi Z. Melalui simulasi tersebut, mereka dapat mengenal proses pemilihan sekaligus memahami pentingnya menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Bawaslu Siapkan Pemilih Pemula untuk Pemilu 2029
Narasumber Bawaslu Kota Surakarta, Agus Sulistyo, mengatakan pendidikan demokrasi di sekolah menjadi salah satu langkah untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi pemilu mendatang.
Sebagian besar siswa kelas IX yang mengikuti kegiatan tersebut diperkirakan akan memasuki usia pemilih pada Pemilu 2029. Karena itu, pengenalan hak dan tanggung jawab sebagai pemilih perlu dilakukan sejak dini.
“Mereka kita persiapkan menjadi pemilih yang cerdas pada Pemilu 2029. Karena nanti akan menjadi pemilih pemula, Bawaslu siap memberikan coaching dan pendampingan agar mereka memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai pemilih,” kata Agus.
Menurut dia, pendidikan pemilih tidak harus menunggu hingga tahapan pemilu dimulai. Sekolah justru dapat menjadi ruang strategis untuk menanamkan kebiasaan berdemokrasi melalui kegiatan yang sederhana dan sesuai dengan kehidupan siswa.
Agus juga menilai model Youth Election melalui simulasi e-voting dapat dikembangkan sebagai salah satu pendekatan pendidikan demokrasi bagi generasi muda.
“Kegiatan Youth Election seperti ini bisa menjadi role model untuk meningkatkan kualitas pemilih pemula pada masa yang akan datang. Kita ingin mereka tidak hanya tahu cara memilih, tetapi juga memahami nilai-nilai demokrasi sehingga ikut mendukung ekosistem demokrasi next level,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kota Surakarta berharap para siswa dapat memahami demokrasi tidak sebatas teori di ruang kelas. Pengalaman memilih secara langsung diharapkan membentuk generasi muda yang berani berpendapat, menghargai perbedaan, menerima hasil pemilihan, serta bijak dalam menggunakan informasi digital.
Pembelajaran tersebut sekaligus menjadi bekal bagi para siswa untuk berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi, baik di lingkungan sekolah maupun ketika kelak menggunakan hak pilih dalam pemilu.








