Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 165 Orang, 1.300 Orang Hilang, Ahli Soroti Gletser Mencair dan Topografi Himalaya

oleh
oleh
Banjir dan tanah longsor Nepal-Tibet

NEPAL, MettaNEWS– Banjir bandang disertai tanah longsor yang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 165 orang dan membuat lebih dari 1.300 orang hilang. Para ahli menilai kondisi gletser yang semakin tidak stabil, kemungkinan pencairan cepat, serta topografi ekstrem Pegunungan Himalaya menjadi faktor penting yang memperparah bencana.

Bencana terjadi pada Rabu (26/8/2026), ketika aliran air bercampur lumpur, batuan, es, dan sedimen menerjang wilayah di sepanjang Sungai Bhote Koshi dan Trishuli.

Dampaknya sangat besar. Rumah dan bangunan terendam material longsoran, kendaraan tersapu arus, sementara sejumlah ruas jalan dan kawasan pembangunan ikut terdampak.

Otoritas Nepal menyebut studi awal citra satelit Planet Labs menunjukkan tanah longsor yang melibatkan material es dan batuan memicu banjir di Sungai Lhende, sekitar 20 kilometer sebelah timur laut perbatasan Nepal-China di Rasuwagadhi.

Namun, para ahli melihat persoalan bencana tersebut tidak berhenti pada satu pemicu.

Dan Shugar, profesor madya di Universitas Calgary, mengatakan citra satelit menunjukkan indikasi pencairan salju dalam jumlah besar selama 24 jam sebelum bencana.

Beberapa gletser yang sebelumnya tertutup salju tampak berubah menjadi permukaan es terbuka. Kondisi tersebut mengindikasikan kemungkinan adanya suhu yang cukup hangat sebelum kejadian, meskipun data stasiun cuaca masih diperlukan untuk memastikan kondisi tersebut.

Shugar memperkirakan bagian bawah gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh ke dasar lembah yang berada sekitar 1.200 meter lebih rendah.

Runtuhan tersebut kemudian membawa material batuan dan sedimen dalam jumlah besar sehingga menghasilkan aliran puing yang bergerak cepat menuju kawasan permukiman.

Ahli geologi teknik Vikram Gupta dari Universitas Sikkim, India, juga menilai citra satelit menunjukkan sebagian besar ujung gletser runtuh dan kemungkinan membawa material batuan serta sedimen.

Pemanasan Global Tingkatkan Risiko

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kawasan Himalaya tengah mengalami perubahan lingkungan yang signifikan.

PBB pada 2023 melaporkan pegunungan bersalju Nepal kehilangan hampir sepertiga massa es selama lebih dari tiga dekade akibat pemanasan global. Bahkan, gletser di Nepal disebut mencair 65 persen lebih cepat pada dekade terakhir dibandingkan dekade sebelumnya.

Perubahan tersebut dapat membuat kawasan pegunungan menghadapi risiko lebih besar dari berbagai bencana yang berkaitan dengan air, es, dan kestabilan lereng.

International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) sebelumnya juga memperingatkan bahwa frekuensi dan intensitas banjir, tanah longsor, longsoran salju, serta kekeringan terus meningkat di kawasan Hindu Kush Himalaya.

Meski demikian, para ahli belum memastikan perubahan iklim sebagai penyebab langsung bencana kali ini. Hubungan antara pemanasan global, pencairan gletser, dan runtuhnya gletser tertentu masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Selain faktor iklim, topografi ekstrem Pegunungan Himalaya membuat dampak bencana menjadi semakin besar.

Lembah-lembah sempit dan curam dapat berfungsi seperti koridor yang mengarahkan air serta material longsoran dengan kecepatan tinggi ke wilayah yang lebih rendah.

International Centre for Integrated Mountain Development mencatat banjir bandang tersebut membawa air, sedimen, dan bongkahan batu besar melalui sistem Sungai Bhote Koshi dan Trishuli.

Ketinggian air di wilayah hilir Galchhi bahkan dilaporkan naik hingga sekitar sembilan meter hanya dalam 30 menit.

Sejarawan lingkungan Ruth Gamble dari La Trobe University, Australia, menggambarkan aliran tersebut seperti tsunami daratan yang bergerak hampir 170 kilometer menyusuri lembah Bhote Koshi menuju Nepal bagian tengah.

Pencarian Korban Terus Dilakukan

Besarnya dampak bencana membuat operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Tim penyelamat Nepal dan China mengerahkan personel, kendaraan, anjing pelacak, serta peralatan penyelamatan untuk mencari korban di antara timbunan lumpur dan puing.

Di Nepal, ratusan orang masih belum diketahui keberadaannya. Sementara itu, pemerintah China melaporkan ratusan orang hilang di sisi Tibet, termasuk warga asing.

Sejumlah warga asing yang belum ditemukan berasal dari berbagai negara, termasuk India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, dan Korea Selatan.

Dengan banyaknya korban yang belum ditemukan, jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor Nepal-Tibet masih berpotensi bertambah.

Bencana ini sekaligus menjadi pengingat mengenai meningkatnya risiko di kawasan Himalaya, ketika perubahan kondisi gletser bertemu dengan topografi pegunungan yang ekstrem dan aktivitas manusia di wilayah rawan bencana.