SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, membuka Festival Nyawiji Tosan Aji Surakarta 2026 di Halaman Balai Kota Surakarta, Jumat (11/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Astrid mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan tosan aji sebagai warisan budaya adiluhung yang sarat nilai sejarah, filosofi, serta jati diri bangsa.
“Tosan aji merupakan sebuah warisan sekaligus amanah yang harus kita jaga, kita rawat, dan kita kembangkan bersama. Khususnya keris, yang tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan, keberanian, kebijaksanaan, serta harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujar Astrid.
Tosan aji merupakan sebutan bagi senjata tradisional berbahan logam yang ditempa dengan teknik dan pakem tertentu. Selain keris, tosan aji juga mencakup tombak, pedang, wedung, kujang, rencong, dan berbagai pusaka logam lainnya yang memiliki nilai sejarah, budaya, serta spiritual.
Keris sendiri telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2005, sehingga menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang diakui dunia.
Menurut Astrid, Festival Nyawiji Tosan Aji Surakarta 2026 menjadi ruang penting untuk memperkenalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tosan aji kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Ia menegaskan bahwa benda pusaka tidak boleh hanya dipandang sebagai koleksi atau pajangan, tetapi juga sebagai media pembelajaran sejarah, kepemimpinan, dan pembentukan karakter bangsa.
“Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup di tengah masyarakat, terutama untuk generasi penerus. Dari keris, kita belajar tentang sejarah kerajaan Nusantara, kepemimpinan, keteladanan, hingga semangat menjaga keseimbangan kehidupan,” ungkapnya.
Festival Nyawiji Tosan Aji Surakarta 2026 berlangsung selama tiga hari, 10–12 Juli 2026, dengan mengusung tema “Manunggaling Satyagraha Tosan Aji”.
Berbagai kegiatan digelar dalam festival tersebut, mulai dari pameran keris Nusantara, bursa tosan aji, sarasehan budaya, demonstrasi tempa keris, edukasi perawatan pusaka, pagelaran seni tradisional, hingga bazar UMKM berbasis budaya.
Festival ini mempertemukan para empu, kolektor, pemerhati tosan aji, komunitas budaya, dan masyarakat umum sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif.
Dalam rangkaian pembukaan festival juga dilakukan penyerahan keris pusaka kepada Pemerintah Kota Surakarta sebagai simbol komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Nusantara.
Kehadiran festival ini diharapkan semakin memperkuat posisi Surakarta sebagai Kota Budaya yang mampu mengembangkan warisan leluhur menjadi kekuatan di bidang pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Astrid berharap Festival Nyawiji Tosan Aji dapat terus berkembang dan tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan. Menurutnya, festival ini harus menjadi ruang edukasi budaya, regenerasi pelaku seni dan budaya, sekaligus mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
“Semangat nyawiji atau bersatu harus terus kita rawat. Ketika pemerintah, komunitas budaya, akademisi, pelaku UMKM, dan masyarakat berjalan bersama, maka warisan budaya tidak hanya akan lestari, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan pendidikan bagi masyarakat,” pungkasnya.








