Angkat Kain Gedog Tuban ke Panggung JFW 2027, Mahasiswa ISI Solo Raih Juara 2

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Kreativitas mengolah wastra Nusantara mengantarkan Saifudin Aulya Akhsan, mahasiswa Program Studi Desain Mode Batik, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, meraih Juara 2 Lomba Perancang Mode Menswear (LPMM) Jakarta Fashion Week (JFW) 2027.

Desainer muda asal Sragen, Jawa Tengah, tersebut mencuri perhatian dewan juri melalui koleksi busana pria bertajuk “TUMURUN” yang mengangkat kekayaan kain tradisional Gedog Tuban. Kain bernilai sejarah itu diolah menjadi busana pria kontemporer dengan sentuhan desain modern yang tetap mempertahankan identitas budaya.

Melalui koleksi tersebut, Akhsan menerjemahkan konsep warisan budaya lintas generasi ke dalam karya fesyen yang relevan dengan perkembangan tren masa kini. Ia menunjukkan bahwa kain tradisional tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari industri fesyen modern.

Perjalanan Akhsan dalam kompetisi tersebut terbilang kompetitif. LPMM Jakarta Fashion Week 2027 diikuti 148 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Akhsan berhasil melewati seleksi hingga masuk 20 besar semifinalis.

Persaingan berlanjut sampai tahap final. Akhsan kemudian terpilih sebagai salah satu dari delapan finalis terbaik dan berhasil mengamankan posisi juara kedua.

Dosen pembimbing prestasi, Syarifah Nur Hajja, M.Sn., mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian tersebut. Menurutnya, inovasi Akhsan membuktikan kain tradisional Indonesia memiliki daya saing tinggi ketika diolah melalui pendekatan desain yang kreatif.

“Kami berharap pencapaian Akhsan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan membawa identitas budaya Indonesia ke panggung fesyen yang lebih luas,” ujar Syarifah.

Apresiasi juga disampaikan Ketua Program Studi Desain Mode Batik ISI Surakarta, Agung Cahyana. Ia menilai prestasi di tingkat nasional tersebut menjadi bukti kreativitas dan kapasitas mahasiswa ISI Surakarta dalam bersaing di industri kreatif.

“Kami terus mendorong lahirnya desainer muda yang inovatif, profesional, dan tetap berakar pada kekayaan budaya Nusantara,” tegas Agung.

Prestasi Akhsan tidak hanya membawa nama ISI Surakarta ke panggung fesyen nasional, tetapi juga memperkuat peran FSRD ISI Surakarta dalam pengembangan pendidikan seni dan desain serta ekosistem industri kreatif Indonesia.

Melalui pencapaian ini, ISI Surakarta berharap semakin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk mengeksplorasi wastra Nusantara dan melestarikan kekayaan budaya melalui karya fesyen yang sesuai dengan perkembangan zaman.