SEMARANG, MettaNEWS – Senyum bahagia terpancar dari wajah Rafa Fidianto saat masuk sekolah mengenakan seragam SMA untuk pertama kalinya. Anak seorang pengemudi ojek itu sempat menghadapi kenyataan pahit setelah gagal masuk sekolah negeri karena nilai yang belum memenuhi syarat. Namun, harapannya untuk melanjutkan pendidikan tetap terbuka melalui Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Rafa akhirnya diterima sebagai siswa SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang. Pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2026/2027, Senin (13/7/2026), kisah perjuangannya mendapat perhatian langsung dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang menyapa para siswa.
Dalam perbincangan dengan Luthfi, Rafa menceritakan pengalamannya saat mendaftar sekolah negeri hingga akhirnya mendapatkan kesempatan belajar melalui program tersebut.
“Saya sempat daftar ke sekolah negeri, tetapi nilainya belum cukup. Sekarang saya senang bisa sekolah di sini dan punya banyak teman,” ujar Rafa.
Anak pertama dari dua bersaudara itu mengaku memiliki cita-cita menjadi prajurit TNI agar kelak dapat membanggakan kedua orang tuanya.
Kisah perjuangan serupa dialami Noval Surya Saputra. Didampingi ibunya, Mutiari Setyawati, Noval mengaku bersyukur mendapat kesempatan bersekolah tanpa biaya melalui Program Sekolah Kemitraan.
Sebelumnya, Noval berencana masuk sekolah negeri. Namun, jarak tempat tinggalnya di Bandungan menjadi salah satu pertimbangan hingga akhirnya memilih SMA Laboratorium UPGRIS.
“Alhamdulillah kami sangat terbantu. Sebagai orang tua, saya terus memotivasi anak agar jangan sampai minder,” kata Mutiari.
Ia berharap kesempatan pendidikan yang diberikan pemerintah dapat menjadi jalan bagi putranya untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Cerita lain datang dari seorang ibu yang bekerja sebagai buruh tani. Dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, ia mengaku sempat khawatir tidak mampu membiayai pendidikan anak ketiganya yang kini tumbuh tanpa sosok ayah.
Program Sekolah Kemitraan menjadi harapan baru bagi keluarganya.
“Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah dan masih mau sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan dan tidak seperti ibunya,” tuturnya.
Melihat berbagai kisah tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak boleh menjadi penghalang anak-anak untuk memperoleh pendidikan.
Di hadapan para siswa, Luthfi berpesan agar mereka tidak merasa rendah diri dengan latar belakang keluarga maupun kondisi ekonomi.
“Boleh kita punya sekolah yang berbeda. Boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat!” pesan Luthfi.
Menurutnya, setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pemerintah, kata dia, harus hadir memberikan akses agar tidak ada anak yang berhenti sekolah hanya karena keterbatasan ekonomi.
“Mereka harus tetap sekolah, tidak boleh putus sekolah. Sekolah tidak boleh berhenti hanya karena kondisi keluarga kurang mampu,” tegasnya.
Luthfi menjelaskan, Program Sekolah Kemitraan merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memberikan kepastian pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Para siswa yang diterima melalui program tersebut berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari anak pedagang angkringan, pengemudi ojek, buruh, hingga anak yang kehilangan orang tua dan diasuh oleh kerabat.
“Ini adalah bentuk tanggung jawab negara untuk memberikan jaminan dan kepastian pendidikan bagi mereka,” ujarnya.
Pada Tahun Ajaran 2026/2027, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan 139 sekolah swasta yang terdiri dari 56 SMA dan 83 SMK dalam Program Sekolah Kemitraan. Sebanyak 3.663 siswa diterima melalui program tersebut, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 2.390 siswa.
Jumlah tersebut terdiri atas 1.063 siswa SMA dan 2.600 siswa SMK. Khusus di Kota Semarang, sebanyak 51 siswa mendapatkan kesempatan melalui program ini, yakni 24 siswa di SMA Laboratorium UPGRIS, 21 siswa di SMK Bina Nusantara, dan enam siswa di SMK Ibu Kartini.
Selain akses pendidikan gratis, pemerintah juga memberikan bantuan perlengkapan sekolah dan sepatu kepada 55 siswa. Para orang tua siswa turut mendapatkan paket sembako dari Baznas Jawa Tengah.
Dalam kunjungannya, Luthfi juga mengingatkan sekolah agar pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berjalan aman, ramah, dan menyenangkan bagi peserta didik.
“Tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada lagi perundungan, apalagi sampai menimbulkan rasa minder. Sekolah tidak menakutkan, tetapi harus menjadi tempat yang menyenangkan sehingga anak-anak merasa nyaman,” katanya.
Luthfi berharap para siswa memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Menurutnya, pendidikan bukan hanya jalan untuk mencapai cita-cita, tetapi juga menjadi kunci memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup keluarga.
“Kalian harus menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua, mempunyai cita-cita yang luhur, serta mampu mengubah diri sendiri maupun keluarga menjadi lebih baik,” pungkasnya.








