Anak Berkebutuhan Khusus dengan IQ Di Bawah 70 Sulit Masuk Sekolah Inklusi

oleh
Anak berkebutuhan khusus
Ilustrasi anak berkebutuhan khusus (ABK) | Dok Guesehat

SOLO, MettaNEWS – Selain sekolah luar biasa (SLB), pemerintah juga menghadirkan sekolah inklusi untuk memberikan akses pendidikan yang lebih luas bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Berbeda dengan SLB, di sekolah inklusi, ABK dapat mengenyam pendidikan bersama anak-anak normal.

Namun tidak semua ABK dapat bersekolah di sekolah inklusi ini. Sebab sekolah inklusi miliki kriteria bahwa ABK dengan kecerdasan intelektual atau IQ minimal 70 sajalah yang bisa bergabung dengan layanan pendidikan yang satu ini. Bukan tanpa sebab, sulitnya ABK dengan IQ di bawah 70 beradaptasi dengan anak-anak normal menjadi tantangan besar bagi tenaga pendidik.

“Anak dengan IQ 69 pun masih berat untuk masuk di sekolah inklusi. Itu yang menjadi pijakan kita. Adaptasinya cukup banyak. Ya kalaupun bisa sekolah inklusi tapi dengan catatan ada guru pembimbing khusus. Itupun sudah berat,” kata Humas Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI) Kota Surakarta Syarifudin Amrullah, Selasa (31/1/2023).

Pentingnya Assasmen Atau Tes IQ Anak Berkebutuhan Khusus

Selain IQ, kriteria ABK masuk sekolah inklusi, di lihat dari kondisi fisik, serta sifatnya yang mudah tantrum atau agresif dan destruktif. Jika ABK tidak mampu merespons secara langsung, maka memerlukan guru pendampingan khusus (GPK). Serta mampu berkomunikasi dua arah dan bersosialisasi dengan baik.

“Jika IQ di bawah 70, berat kalau masuk sekolah inklusi. Walaupun sudah diadaptasi dari segi kurikulum maupun yang lainnya. Jika dipaksakan, sekolah akan kebingungan. Karena sekolah juga belum siap mendidik anak itu,” kata Amrullah.

Kendati demikian, ABK IQ di bawah 70 tetap dapat mengenyam pendidikan lewat SLB. Berbeda halnya bagi ABK dengan IQ di bawah 25. Maka ABK kategori ini harus mendaftar di balai atau yayasan khusus untuk menjalani terapi.

Dalam hal ini, orangtua wajib mengetahui hambatan apa yang dialami ABK. Baik fisik, motorik, mental, dan perilakunya. Sebelum memasukkan sang buah hati ke sekolah. Agar penangananya pun dapat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak.

“Orang tua harus siap dan paham apa saja kebutuhan anaknya. Tidak benar jika orang tua memaksa masuk sekolah inklusi, padahal anaknya tidak siap. Lebih baik diassesmen atau dites dulu. Tes IQ sangat memengaruhi penempatan anak. Apakah nanti bisa masuk sekolah inklusi atau SLB,” terangnya.