SOLO, MettaNEWS – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Surakarta menggelar Diskusi bertajuk “Editor Meeting Penguatan Informasi Terhadap Kelompok Marjinal.
Diskusi ini menggandeng <span;>11 redaktur, editor, atau redaktur pelaksana (redpel) dari 11 media yang berbeda, dari skala lokal hingga nasional.
Pertemuan dengan awak redaksi ini berdiskusi mengenai isu minoritas dan kelompok marjinal di dapur redaksi.
Pertemuan para editor ini merupakan sarana berbagi informasi mengenai berbagai isu dan pemberitaan media. Sebagaimana diketahui, dapur redaksi menjadi nakhoda pemberitaan media.
Oleh karenanya editor, redaktur, redpel, dan pemimpin redaksi (pemred) memiliki peran yang sangat menentukan.
Ketua AJI Kota Surakarta Mariyana Ricky PD mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai perspektif redaksi, dukungan, dan kendala dalam penguatan informasi terhadap kelompok marjinal.
Mariyana memaparkan sejumlah riset mengenai pemberitaan kelompok marjinal dan minoritas dari berbagai media.
Selain itu, menjelang pemilu, penggorengan isu marjinal dan hoaks meningkat tajam. Para politisi pun ada yang menyuarakan sekaligus mengeksploitasi ujaran kebencian. Ironisnya, masyarakat dan media menjadi echo dan mengamplifikasi pernyataan tersebut.
“Lantas kenapa politik identitas masih terus terdengar, karena masyarakat belum kuat. Terlebih jika masyarakat masih majemuk dan tak familiar dengan keberagaman,” kata Mariyana.
Di satu sisi, kelompok minoritas memiliki suara yang lemah. Mereka tak banyak mendapat perhatian suara, media, dan sokongan karena tak mendulang klik.
“Saat ini, banyak kelompok seperti agama lokal yang tidak mendapat ruang,” tutur Mariyana.
Dengan kondisi seperti itu, media berperan penting untuk melakukan edukasi melalui pemberitaan yang berimbang, netral, dan melakukan verifikasi.
Beberapa redaktur menyampaikan pendapatnya. Bagaimana kondisi industri media cetak terbagi menjadi dua yakni cetak dan online.
Di media cetak relatif lebih tersaring karena banyak yang terlibat. Kondisi tersebut berbeda dengan media online.
Proses penyaringan produk jurnalistik yang lebih longgar di media online turut menjadi tantangan tersebdiri. Selain itu, traffic juga menjadi parameter utama.
“Ketika sudah ada ruang, Bagaimana bungkusnya, takutnya kita memberi ruang tapi malah membuat mereka terdiskriminasi. Jadi harus ada pemahaman lagi di pengemasan isu KKB,” imbuh Mariyana.
Dapur media online tak hanya berisi para jurnalis, melainkan menjadi beragam dari penulis konten atau content writer hingga tim yang mengelola media sosial.
Dewasa ini media juga memiliki tantangan lain yakni penyegaran posisi atau perpindahan desk. Saat menempati posisi yang baru, jurnalis tentu memerlukan penyesuaian.
Oleh karena itu, perlu ada pelatihan pemahaman yang berkesinambungan.
Selain itu, tidak menutup kemungkinan jajaran redaksi melakukan kesalahan karena beberapa faktor eksternal.
Selain itu, cover both side juga harus terus dilakukan untuk menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas.







